Senin, November 28, 2011

Islam (disini)

Kehidupan penuh perbedaan. Secara lahir dan batin, Wanita berbeda dengan pria. Tua dan muda juga berbeda. Bahkan, di negara Indonesia ada lima agama sah diakui yang berbeda. Namanya juga Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Pokoknya tetap satu Indonesia.

Saya akui, di Manado sangat jauh berbeda dengan di tanah Jawa. Saya bilang demikian, karena saya pun pernah tinggal setahun di daerah Surabaya, selain di tanah kelahiran Probolinggo. Rentang waktu setahun saya rasakan, tidak ada perbedaan yang mencolok antara Surabaya dengan Probolinggo. Perbedaan Manado-Jawa ini lebih besar karena faktor keadaan agama. Kalau di Jawa, tiap sekitar 100 meter hampir adamasjid atau musholla, sesekali saja kita temui gereja. Namun berbalik 180 derajat di Manado, gereja hampir berjejer di pinggir-pinggir jalan utama menuju kota. Di wilayah perumnas - tempat saya tinggal - ada dua, sedangkan masjid hanya ada satu se- kelurahan Paniki Dua.

Maaf sebelumnya, kalau tulisan ini mengandung SARA. Saya berusaha untuk tidak menyinggung salah satu agama. Ini keadaan dan pengamatan di Manado dan sekitarnya, dan efeknya terhadap saya dan teman-teman yang bernasib sama dari Jawa. Semoga ada manfaatnya. Setidaknya memberi gambaran pluralisme disini. Atau ikutan trenyuh (prihatin), hehe...

Seperti yang saya gambarkan di paragraf dua, di Manado keberadaan gereja jauh lebih banyak daripada masjid. Bisa ditarik kesimpulan memang umat Nasrani mayoritas disini. Nah kami, sudah perantau, juga termasuk yang minoritas. 

Berdekatan : Gereja di pertigaan, kalau mau ke masjid dari kontrakan lewat sini (foto masjid menyusul)

Hidup di tanah turunan Minahasa ini, semua memang serba minoritas. Kalau Anda seorang muslim, orang Jawa dan hidup di Jawa pula, Anda akan merasakan lingkungan layaknya istana sendiri. Semua seakan bergerak berirama, misalkan ritual adat ketika tahun baru Hijriah, atau 1 Syuro. Masjid, musholla dan surau-surau kompak melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an, biasanya dimulai bada (usai) Ashar hingga menjelang Isya. Nah, saya akan menceritakan bagaimana 'perayaan' tahun baru Hijriah di masjid di lingkungan mayoritas Nasrani ini.

Masjid ini satu-satunya dan terbesar di kelurahan Paniki Dua (bisa jadi se-kecamatan Mapanget). Selain masjid, jarang ada musholla atau surau. Setahu saya, yang lain itu musholla di BDK. Masjid dengan corak warna dominan hijau ini, memiliki pelataran yang cukup luas dikelilingi pagar tembok setinggi badan. Akses masuknya, melalui dua pintu, di sisi timur dan utara. Tidak jauh beda dengan masjid lainnya, masjid ini juga memiliki menara pengeras suara di sisi timur, dekat tempat wudhu terbuka. Entah, ini tempat wudhu untuk pria atau wanita, karena kadang saya, teman-teman dan bapak-bapak mengambil air untuk bersuci disini, kadang juga terlihat ibu-ibu berwudhu. Kubah masjid berwarna hijau, dilingkari lampu kelap-kelip. Jika dilihat dari kontrakan saya, lumayan kelap-kelip hijau-merah ini mencolok di tengah mendungnya langit Manado. Apalagi jalan-jalan di perumnas belum ada lampu penerangan jalan.

Cukup banyak umat muslim di sekitar Paniki Dua yang menunaikan shalat berjamaah di masjid ini. Apalagi kalau shalat Maghrib dan Isya', hampir tiga shaf selalu dipenuhi. Masjid ini juga menjadi salah satu tempat berkumpulnya umat muslim dengan efektif, termasuk tempat berkumpulnya kawan-kawan STAN dari Jawa maupun Makassar.

Masjid ini bernama Al Muhajirin. Muhajir berarti kaum yang hijrah, dari satu tempat ke tempat lain untung tinggal menetap. Istilah nasionalisnya imigrasi. Kalau dalam agama Islam, Muhajirin juga berarti pindah tempat tinggal untuk berjuang di jalan Allah.  "Wah, ini gue banget!" pekik saya dalam hati melihat nama ini, Insya Allah!. Pindah jauh dari Jawa, untuk belajar di sini. Fi sabilillah, dan syahid adalah asuransi kami. 

Mungkin itu juga dipikiran orang-orang yang mendirikan masjid ini. Konon masjid ini dibangun oleh warga pendatang dari Jawa, yang rata-rata muslim. Mereka tinggal di sekitaran masjid. Sebelumnya saya belum tahu, kalau banyak orang Jawa yang sering berjamaah di masjid ini. Cuman beberapa kali menaruh curiga. Kok rata-rata kulitnya sawo matang, dan sawo kematangan - seperti saya - yang beberapa kali terlihat keluar-masuk ruang sekretariat masjid. Beberapa kali curi dengar mereka bilang "Yo opo iki, lho ngene lho," dengan logat yang jelas-jelas medok Njowo. Tapi kala itu daerah ini sangat asing, gag mau ambil pusing apa mereka bener dari Jawa, kebetulan asal ngucap saja, atau orang Manado yang memang nawaitu les privat ke orang Jawa. Ada-ada saja. haha.. :D

Kalau dari kontrakan menuju masjid, kami harus melewati sebuah gereja besar di pertigaan jalan. Gereja ini juga hampir sama besar dengan masjid. Banyak aktivitas yang dilakukan gereja ini, siang hingga larut malam. Kegiatannya bermacam-macam, tidak hanya sembahyang saja, tetapi selintas saya lihat ada semacam pertunjukan atau pesta. Segala aktivitas di gereja ini hampir bisa didengar oleh siapa saja di lingkungan ini. Pasalnya, selain menggunakan corong pengeras suara di gereja, ternyata juga ada pengeras suara di tiap-tiap gang yang asal suaranya dari gereja. Kadang pagi hari hingga menjelang siang, diperdengarkan lagu-lagu Nasrani. Mau tidak mau, kami dapat mengetahui aktivitas mereka dari corong pengeras suara ini. Kalau masjid kubahnya yang dilingkari lampu kelap-kelip, nah gereja ini juga punya lampu kelap-kelip menempel di tembok depan, cukup besar dan membentuk salib.

Pernah saya dengar dari seorang muslim, security BDK. Katanya disini kalau malam takbiran Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha, bukan hanya umat Islam yang bertakbir, tetapi umat non muslim juga turut merayakan. Begitu pula saat Natal, umat muslim kadang bisa jadi Sinterklasnya. Allahu Alam. Saya belum bisa bicara banyak, belum bisa lihat sendiri. Nanti akhir bulan Desember ini saja saya tulis. Yang jelas, Islam tetap mengajarkan kita boleh bersaudara, bertetangga dan hidup bermasyarakat dengan non-muslim. Tapi tetap, soal ibadah tidak bisa diganggu gugat. Agamamu itu agamamu,  agamaku-agamaku. (Coba nanti saya buktikan :D )

Nah, ini ceritanya, tadi intermezzo sedikit :D 
Malam itu (27/11), adalah tahun baru Islam 1433 hijriah. Sudah sejak siang hari hingga usai shalat Ashar terdengar beberapa kali pengumuman dari pengeras suara masjid, bahwa nanti bada maghrib diselenggarakan baca doa bersama awal tahun yang kemudian dilanjutkan dengan tasyakuran. Siang itu usai mendengar pengumuman masjid itu dan melihat beberapa status fb kawan di ITS, saya baru sadar, 1 Muharram jatuh pada nanti malam. Sepakat, kami sekontrakan ikut baca doa awal tahun berjamaah. 

Suasana malam itu usai hujan deras, jalanan yang diaspal basah, yang lubang tergenang air. Keadaan ini membuat kita berjalan menuju masjid dengan mencincing sarung meski harus berpacu dengan adzan Maghrib disusul Iqamah. Jamaah yang datang malam itu memang sedikit lebih banyak, terutama shaf para ibu. Kami sekontrakan juga tidak genap datang semua. Pasalnya, Si Doni dan David masih mandi, sedangkan si Izhar sepertinya lagi sibuk sendiri di kamarnya. 

Awalnya tidak ada yang beda, biasa saja. Usai shalat Maghrib, jamaah dilanjutkan membaca do'a awal tahun tiga kali, dan beberapa amalan dzikir. Saya sedari tadi sudah tidak fokus membaca dzikir. Pikiran saya melayang jauh ke rumah. Ada - sedikit rasa - kangen, shalat jamaah di musholla dekat rumah. Tiba-tiba, pikiran melayang-layang gag karuan. Mata saya tiba-tiba buram, berkaca-kaca. "Gusti, sampun seminggu kulo dateng mriki, Alhamdulillah wonten masjid sing tiyang-tiyang'e kados keluarga sedaya (Allah, sudah seminggu saya disini, Alhamdulillah ada orang-orang masjid yang semuanya seperti keluarga)," ujar saya lirih hanyut dalam doa. 

Acara selanjutnya - menurut saya sangat spesial - yaitu tasyakuran dan ada sedikit ceramah. Bukan makanan yang membuat menarik - meskipun memakai asas kemahasiswaan, ada benarnya - tetapi apa yang disampaikan oleh penceramah. Pak Yahya, namanya. Beliau seperti orang Jawa, dilihat dari tingkah laku, raut wajah dan cara menuturkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Pak Yahya termasuk orang yang terkenal di daerah ini. Mulai dari pos satpam BDK hingga ke pasar, banyak yang bicarakan beliau. Beliau sangat memperhatikan mahasiswa baru STAN ini. Pak Yahya mengaku bangga dan senang, banyak dari kami yang datang shalat berjamaah. Hampir dua shaf seringkali dipadati musafir ilmu perpajakan ini. 

Saat awal tahun baru Hijriah kemarin, Pak Yahya menghadiahi kami doa untuk kelancaran kuliah selama setahun kedepan. Beliau juga senang hati jika mereka mau menggunakan masjid sebagai tempat pos kami, rumah kami setelah kos dan BDK, baik untuk shalat, mengaji, belajar, atau bahkan sekedar istirahat. "Itu lebih baik, Insya Allah warga sini juga akan mengenal kalian, karena masyarakat disini adalah keluarga kalian selama satu tahun ini,". Alhamdulillah, hati saya dingin, tapi mata saya panas. Beberapa kali tangan saya mengucek kedua mata ini, berusaha menyembunyikan air mata yang terlanjur tumpah.

Esoknya (28/11), usai shalat Isya, ada pengalaman baru. Pertama kalinya saya dan jamaah shalat Isya masjid Al Muhajirin menjadi saksi atas masuknya Alex atau Lexi dalam agama Islam. Alex yang berkulit hitam manis ini - begitu Pak Yahya menyebutnya - dulunya adalah penganut agama Katolik. Sudah sejak dua minggu lalu, Alex bertekad bulat dan serius masuk Islam. "Alex, dulu kamu adalah saudara kami, sekarang setelah masuk Islam, kamu menjadi keluarga besar kami, dan masjid ini akan menjadi rumah kedua Alex setelah tempat tinggal. Insya Allah, Allah akan meridhai segala amal baikmu, Lex," pesan Pak Yahya kepada Alex dihadapan jamaah. 

Usai Pak Yahya berkata demikian, mata saya mulai berkaca-kaca. Sembari menahan air mata yang ingin meluap tumpah, saya membatin. Alhamdulillah, saya dan Alex diberi hidayah agama Islam yang sangat indah ini. Saya dapat membayangkan, orang seperti Alex ini adalah transisi akidah yang sangat besar. Secara rasionalis, dia sebenarnya berada di posisi aman, mayoritas. Namun, secara akhlak dan akidah, dia memilih jalan yang mulia sekaligus jalan yang berat - menurut saya - yakni menjadi minoritas. Tapi Pak Yahya sudah berpesan, apabila kita semua ingin mempertebal iman dan taqwa, masjid adalah tempatnya. Ah, bagi saya yang belum pernah mondok ini, masjid ini bisa dijadikan pondok pesantren saya. Semoga Alex, saya dan pemeluk agama Islam selalu dikuatkan iman dan ditingkatkan taqwanya. Amin.

Pak Yahya kemudiah melanjutkan wejangannya kepada kami, mahasiswa STAN yang rata-rata sudah tidak berambut alias gundul satu centi. Seakan seirama dengan pikiran bahwa masjid ini pesantren saya, tiba-tiba Pak Yahya mengusulkan agar kami ini dibina intensif dalam bidang agama. Beliau usul, agar kita ini dididik ilmu agama Islam untuk syiar agama dalam masyarakat. "Kalian nantinya akan disebar di seluruh Indonesia (saya lekas-lekas berdoa, semoga di Jawa saja, Amin :D ), kalian yang akan membawa bendera Islam di pelosok negeri ini. Maka, saya dan pengurus masjid punya inisiatif untuk mengajak adik-adik STAN belajar bersama tentang agama. Utamanya, ya belajar menjadi imam shalat, imam tahlil, imam shalat jenazah, merawat jenazah, serta belajar khutbah Jum'at," jelas Pak Yahya disertai senyumnya yang teduh. 

Jenius bapak ini. Kita memang kader Depkeu. Tetapi kalau hanya dibekali ilmu administrasi perpajakan, lantas siapa yang menjadi imam di daerah dinas nanti? Siapa yang menjadi panutan agama di lingkungan dinas nanti? Dan siapa yang berani berkata "Haram!" pada uang pelicin, kalau tidak pelaksana pajak nanti. Ya, kami nanti yang bertanggung jawab semuanya. Alhamdulillah, satu tahun dari sini, selain menuntaskan pendidikan, juga bisa jadi ustad muda. :D hehe.. Allahumma Amin.

Sungguh, sebenarnya tidak mudah hidup di lingkungan seperti ini. Keluar rumah kontrakan harus ekstra hati-hati. Kalau di Jawa, yang haram dan najis itu jarang ditemui, disini yang haram sangat mudah. Keluar rumah rasanya amat kotor. Maaf, kotoran anjing bisa dimana, belum anjingnya dan air liurnya yang menetes kemana-mana, sehingga saya selalu mencincing celana atau sarung. Itu yang najis, belum yang haram untuk hati. Juga apes, haram untuk mata, karena penjahit disini selalu membuat pakaian yang tidak tuntas. Celana gag sampai mata kaki, bahkan gag sampai lutut, entah berapa centi diatasnya. Baju u can see (yukensi) yang artinya "kamu dapat liat", ah membuat risih. Hanya bisa berjalan ke kampus membatin, nggak terlalu banyak lihat depan, nunduk lebih aman. 

Kata Pak Yahya, ilmu itu suci, ilmu itu cahaya. Allah tidak akan memberikan ilmu-Nya apabila jiwa dan raga kita kotor. Naudzubillah. Jauh-jauh ke Manado, nggak dapat ilmu apa-apa, bahkan Allah tidak mengakui kita sebagai pejuang di jalan-Nya apabila kita melenceng. "Niatkan, lurus pandangan, tidak boleh noleh kanan-noleh kiri, hanya untuk ilmu Allah," begitu ucap beliau.


- Bisa saja lulus, tapi jadi Gayus. 
Ih, amit-amit... Naudzubillah... Semoga kita dihindarkan dosa besar menyuap dan disuap..

- Semoga Pak Yahya dan rekan-rekan takmir masjid diterima amal ibadahnya, serta juga berperan membangun suasana di Dirjen Perpajakan Kementerian Keuangan sejuk, tenang dan bersih suci. Semua itu untuk umat kok..

- Minoritas atau mayoritas itu sama saja. Sama-sama harus mempertebalkan keimanan dan meningkatkan ketaqwaan. Fardhu ain hukumnya.

bersambung dengan seri yang lain...

1 komentar:

  1. Wah, subhanallah yah...
    tulisannya menginspirasi sekali. Coba di sana dirimu ikut pengajian/liqo/halaqoh/taklim atau apalah itu namanya. Biar ada "keluarga" di sana, dan juga sebagai pembelajaran hidup secara praktis di tanah rantau :)
    cemungudh ea mas Toni!
    sya jadi makin ngefans deh :P

    BalasHapus

Silahkan sempatkan untuk memberi komentar..

jagoBlog.com