Jumat, April 22, 2011

Aksi Mahasiswa, Aksi Menulis Kreatif di Koran

Berbicara mengenai mahasiswa adalah berbicara mengenai intelektualitas dan sosok agen perubahan serta pembawa angin segar untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapi. Kenapa haruslah mahasiswa? Kok tidak siswa?

Sadar atau tidak, mahasiswa adalah sosok yang di-Maha-kan, sosok yang diagungkan dan sosok yang dipandang memiliki kapabilitas lebih dari seorang siswa biasa.  Jika dilihat secara biologis, mahasiswa yang rata-rata berusia 18-24 tahun, telah matang secara hormonal dan secara pemikiran. Emosi lebih stabil apabila dibandingkan dengan siswa. Kemampuan analisisnya lebih tajam ditambah wawasan yang semakin luas terhadap permasalahan bangsa, daripada seorang siswa biasa.

Lalu, apa sebenarnya makna kata Maha di depan kata siswa? 
Sejatinya, mahasiswa bukan siswa biasa, ada tuntutan untuk lebih peka dan bisa merasakan apa yang dirasakan bangsa ini. Bentuk kepekaannya biasa disebut di kalangan kampus dengan sebutan, aksi!
Seperti yang dikatakan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dalu Nuzlul Kirom, bahwa kita sebagai mahasiswa haruslah proaktif, kritis melihat kondisi masyarakat. Namun aksi seperti apa yang efektif saat ini?

Ya, inilah pentingnya suatu media atau Koran, yakni sebagai wacana yang terpublikasi secara luas kepada khalayak umum. Jika mahasiswa memahami bahwa menulis opini di media massa seperti Koran, maka menulis adalah salah satu bentuk aksi yang nyata. Melihat, aksi mahasiswa belakangan ini terkesan begitu anarkis. Mari kita bandingkan dengan kekuatan menulis.

Jika sekelompok mahasiswa melakukan aksi turun jalan, bisa anda hitung berapa orang yang memerhatikan aksi turun jalan mereka. Seribu? Itu masih untung. Itu hanya melihat, tidak melihat esensi dari aksi mahasiswa itu.

Nah, bagaimana dengan menulis?. Bramma Aji Putra dalam bukunya menembus Koran mengatakan, sebuah Koran lokal Jogjakarta misalnya, SKH Kedaulatan Rakyat memiliki oplah sebanyak 500 ribu ekslempar.

Andaikan 5 persen saja, saya ulangi, hanya 5 persen saja membaca tulisan Anda, berarti ada 25 ribu orang yang membaca tulisan Anda. Keren bukan? Hanya dengan menulis di Koran. Itu hanya Koran lokal, bagaimana dengan Koran dengan skala nasional. Tidak harus turun jalan kan?

Lalu apa efek samping dari tulisan kita?

Evawani Alissa, anak semata wayang seorang penulis sekaligus pujangga kawakan Indonesia, Chairil Anwar pernah bercerita bahwa ayahnya sempat berujar jika umurnya panjang, Chairil bercita-cita menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, jika usianya pendek, sebagaimana yang diucap Chairil sendiri ,”Anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga,”.

Nyatanya, usia Chairil memang pendek, tidak genap 27 tahun. Namun, Chairil benar, terkait esensinya yakni namanya kerap menghias buku-buku pelajaran sekolah dasar, dan sajak-sajaknya menjadi bacaan wajib khususnya pelajaran Bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu saja, dirinya juga menyatakan dalam sajaknya “Aku ingin hidup seribu tahun lagi…” dan itu benar adanya! Meski raganya sudah tiada, namun tidak dapat dipungkiri namanya tetap hidup hingga saat ini. Hanya karena menulis.

Contoh efek samping lain yang bisa dirasakan mahasiswa, adalah honor yang didapat dari menulis. Sejatinya, setiap media mengapresiasi setiap orang yang menulis di medianya. Jumlahnya pun tidak bisa dibilang murah, dari 200 ribu hingga yang skala nasional mencapai 1,5 juta rupiah. Bayangkan, sekali menulis, Anda akan mendapat gaji layaknya seorang pegawai negeri sipil yang baru saja diangkat. Bahkan, saya masih ingat ketika saya iseng-iseng ikut kelas menulis opini milik kampus sebelah, Universitas Airlangga. Pak Lis, begitu kami menyapa, berujar kalau dirinya pernah menganggur kurang lebih setahun usai kuliah. Namun bukan berarti tanpa penghasilan. Dengan kelihaiannya menulis di Koran nasional, beliau bisa makan enak, hidup dengan tenang hanya dengan menulis rutin tiap bulannya di Koran. Menyenangkan bukan.

Tapi masalah honorium adalah nomer sekian. Yang perlu ditekankan adalah bagaimana pentingnya menulis itu untuk mengajak dan memberitahu kepada khalayak luas mengenai pemikiran kita.

Kongkretnya begini, mahasiswa adalah kader penerus bangsa yang nanti akan membawa angin perubahan. Nah, kalau cara kita untuk mengubah bangsa, misal saya sebut aksi, itu sama saja dengan aksi yang dilakukan mahasiswa saat pelengseran tahta kekuasaan terdahulu, maka itu bukan perubahan Bung! Dan menulis opini di Koran adalah wujud konkret aksi untuk memengaruhi pemikiran orang lain sehingga bisa terbuka dengan gagasan kalian. Bukankah begitu, wahai mahasiswa?

Ditulis oleh : Muflih Fathoniawan – mahasiswa ITS jurusan Fisika – untuk mengikuti  Confess Blog 
Competition yang diadakan mahasiswa STAN.


Referensi :
- Aji Putra, Bramma. 2010. Menembus Koran. Penerbit Leutika. Jogjakarta
- Wibowo, Wahyu. 2006. Berani Menulis Artikel. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
- Beberapa berita di website www.its.ac.id 
- sumber gambar : http://www.matanews.com/wp-content/uploads/AksiMahasiswa040909-2.jpg

Jumat, April 15, 2011

Senin, April 11, 2011

Open Rekrutmen Pengajar Dolly

Materi Proses Kreatif Menulis Feature

Sobat Pena Blogger...
Sebelum Pena Blogger upload tulisan yang 'berat', hehehe...  buat ikutan Confess Blog Competition yang diadakan www.mahasiswastan.com , Pena Blogger berhasil menemukan materi-materi dari SMA hingga kuliah..

Ya, untuk ke depan, Pena Blogger juga ingin membagikan materi-materi yang pernah didapat dan masih tersimpan rapi. Sharing untuk Sobat Pena Blogger..

Untuk mengawali, materi jurnalistik : Proses Kreatif Penulisan Feature milik Pak Tirto Suwondo dari Balai Bahasa Yogyakarta.
materi ini dalam bentuk PDF, jadi Sobat download dulu ya di link bawah ini :
 
 
atau kalau ada error, comment posting ini ya Sobat... 
Terima kasih, semoga bermanfaat!

Mahasiswa, Kontribusi dan Weekend...

11/04/2011
Senin pagi, usai bangun pagi...

"Ayo, update blog... Udah update blog belum??" Sambar sesosok pria di samping tempat tidurku, sambil terus ngutak-atik netbook-nya.
Belum sempat kutanggapi, masih ucek-ucek mata, dan kilat datang lagi ......  "Ukrainaaaaaaaa....!!!!"
kali ini saya kapok! Saya bangun. 
Ah, Alhamdulillah... ternyata sosok pria kahima IDE ITS itu, si mas Hanif Azhar, berhasil mencapai mimpinya... Semoga jadi berangkat yaa.. (meski, gerutu juga pagi2 disambar-sambar gitu, hahaha)

Nah, apa hubungannya dengan judul posting ini? kok segitu hebohnya sampai dijadikan Lead (paragraf awal) segala..


Mahasiswa, Kontribusi dan Weekend... (agaknya lebih keren di-bold)

Masih fresh ingatan saya mengenai paparan "Peran Fungsi Mahasiswa", yang disampaikan oleh Kahima Sistem Informasi ITS saat pengaderan massal. Singkatnya, ada empat 'kewajiban' kita yang bertitel 'Maha' di depan siswa (baca: siswa yang diagungkan).
Keempat nilai yang ada dalam mahasiswa tersebut, menurut saya adalah pengakuan masyarakat terhadap keberadaan mahasiswa. Bahkan, kalau saya boleh berpendapat, "jadi mahasiswa gag bakal seru kalau belum menunaikan keempat peran fungsi mahasiswa kita,".
Kok bisa?
Coba saya urai sedikit mengenai keempat peran fungsi mahasiswa :
1. Sebagai kontrol terhadap keadaan sosial di masyarakat
2. Menjadi insan tangguh yang dipersiapkan untuk memberi solusi untuk bangsa di masa mendatang
3. Agen perubahan di masyarakat.
4. Menjaga moral-moral yang ada di masyakat.

Kalau disimpulkan dan ditarik benang merah keempatnya, maka ada nilai KONTRIBUSI kepada masyarakat, iya kan? Hemm.. wajar saja kita dituntut berkontribusi, kalau diingat, lebih dari 80% mahasiswa yang tersebar di Indonesia menerima subsidi pendidikan dari pemerintah. Tersadar? sebagian tidak karena tetap merasa membayar, meski sebenarnya apa yang kita bayar itu jauh lebih murah daripada biaya yang sebenarnya dibebankan kepada tiap-tiap mahasiswa. Siapa yang menanggung sebagian lagi biaya kuliah kita?
Rakyat, saudara...
Rakyat Indonesia dengan pajaknya...
Itu yang menopang biaya kuliah kita...
Maka, sudah wajar kan kalau ada timbal balik atau kontribusi kepada masyarakat?

Bentuk kontribusi itu varian, tergantung hal apa yang diminati. Seperti yang dilakukan oleh Kahima IDE itu. Sebut saja Young Leader Indonesia, dan yang terbaru konferensi Internasional di Ukraina, menurut saya merupakan suatu wujud kontribusi tak langsung kepada masyarakat, dengan hasil pemikiran yang didapat dari konferensi bisa memberi solusi atas permasalahan masyarakat Indonesia kelak.
Ada lagi, Mas Nur Huda dan kawan-kawan pengajar lain, aktivis di kampus D, sebutan untuk Taman Baca yang tumbuh ekstrim di wilayah prostitusi yang konon nomer satu di Asia Tenggara, Dolly!. Weekend mereka, tiap Minggu jam 1 siang hingga sore jam 4, dihabiskan dengan mengajar adik-adik yang (terpaksa) berkembang di daerah yang sebenarnya tidak pernah mereka pilih. Tidak pernah memperhitungkan jarak kampus - Dolly yang (lumayan) jauh, tidak juga memperhitungkan apa yang mereka dapat dari mengajar adik-adik yang hiperaktif ini. Yang ada di pikiran mereka, "siraman rohani penyejuk batin"

Courtesy photo by Nur Huda @ Taman Baca Putat jaya (kampus D, Dolly)

Jadi, setiap Senin hingga berakhir Jumat kita pergi ke kampus untuk menunaikan kewajiban kita menuntut ilmu serta sebagai tanggung jawab kita kepada orang-orang tercinta yang bangga melihat kita melenggang di kampus. Sabtu terkadang ada seminar yang diikuti untuk menambah wawasan, dan Minggu saat weekend kita bagi Mahasiswa adalah saatnya menunaikan peran fungsi mereka. 

Saya sendiri? hehee...
Nggak lama lagi saya posting lagi kok, perjalanan saya selama 2 minggu ini tiap akhir pekan?
Mungkin beberapa kerabat menanyakan, dimana saya dan empat kawan saya tiap akhir pekan, kok gag pernah nongol?
nanti, saya ceritakan... "Ke Makassar, Lewat Sebaung"

tunggu ya..
terima kasih... semoga posting kali ini bermanfaat. Amin.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

jagoBlog.com