Senin, Agustus 13, 2012

Jangan Kibarkan Merah Putih mu!

Kiapa mamasang bendera, kak?” (kenapa pasang bendera, kak) tanya bocah perempuan gendut seumuran kelas tiga SMP yang lagi sibuk nongkrong dengan beberapa kawannya di pertigaan depan rumah. Mereka semua terdiam setelah pertanyaan itu terlontar. Mereka terus mengamati gerak-gerik saya dan Dafit yang sedang memasang bendera merah putih. Mereka terdiam, kami sengaja tidak menjawab.

Beberapa saat kemudian, “Ohhh iyaa, 17 Agustus-lah” jawab si Lidya, teman sebayanya yang juga anak pemilik kontrakan saya. “So lewat kang?” (Sudah lewat, kan?) timpal si gendut tadi bersemangat seakan-akan benar hari Proklamasi memang sudah lewat.
 
Glek! Kini saya yang terdiam. Benar-benar terdiam, hingga aktivitas mengikat tali bendera di lingkar bambu juga saya hentikan. Saya pandang mereka, ada yang ngecek kalender di handphonenya. “eh, beluum,” jawab seorang yang tadi mengecek kalendernya. Saya lantas kembali memasang bendera.

Dalam hati menimpali, “Bahkan ini sudah 12 Agustus,”. 
–––––––––––––––––––

Memasuki bulan Agustus memang jauh tak semeriah bulan Juni kemarin, saat euphoria menyambut Pesta Sepak Bola Eropa, Euro 2012. Saat awal Juni lalu, bahkan bulan Mei akhir sudah banyak atribut-atribut bendera, stiker maupun kaos yang dijual. Bukan itu saja, tak sedikit orang-orang di Manado dan kota sekitar yang memasang bendera negara-negara Eropa tim kesayangannya. Ukurannya fantastis besar, sebesar “cinta” kepada tim kesayangannya. Tak hanya itu, atribut stiker bendera negara orang itu juga dipasang di mobil, full body sticker di motor bahkan ada yang ganti warna rambut.
salah satu sudut gang kota ini, terlihat bendera Perancis dan Jerman berkibar di depan rumah penduduk Indonesia
 
Saat itu, saya miris. Saya bandingin dengan tim negara kami, tim Merah Putih Indonesia kalau berlaga di SEA Games, Tiger Cup, ASIAN Cup, seleksi pra World Cup dan laga Internasional lainnya, tidak pernah ada yang berani mengibarkan bendera Merah Putih kita. Meski tim Indonesia bukanlah sekelas mereka di Eropa, setidaknya kalau tidak bisa menghargai diri sendiri, jangan melebih-lebihkan negara orang lain.

Pak Kamil Sjuaib, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) juga tak kalah terkejutnya ketika mendarat di Manado. Kedatangan beliau saat itu untuk memberi kuliah umum di Balai Diklat Keuangan (BDK)Manado. Sepanjang perjalanan, beliau terheran-heran. Beliau lantas bertanya ke pak Budi Setiawan, Kepala BDK Manado untuk mengobati rasa penasarannya. “Lho pak, tadi ada banyak bendera Italia, terus ini ada bendera Jerman, kok di depan sana ada bendera Spanyol besar di depan rumah-rumah penduduk?,” tanyanya kurang lebih demikian. Pak Budi lantas menjawabnya. Saya paham dengan pertanyaan pak Kamil. Beliau mungkin keheranan sekaligus khawatir beliau mendarat di negeri orang.. ^_^ hehe… (Saya mendapatkan ini dari cerita pak Budi)

Hemmm.. kawan...
Ini sebenarnya bukan soal nasionalisme biasa. Ini soal cinta
Kita memang hidup di negara Indonesia, tapi tidak mencintai alam dan wilayah bahkan malah merusak alam kita sendiri. Kita memang menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga kita yang merusak tatanan bahasa kita, lebih gaul pakai “elu, gue, ayas, kita,” dan lebih sering memakai istilah asing yang sebenarnya sudah ada di tatanan bahasa Indonesia. Kita memang mengakui Merah Putih bendera kita, tapi hanya sebatas pengakuan saja. Kalau benar itu adanya, apakah kita sudah cinta dengan negara kita? Apa kita benar-benar mencintai bangsa kita sendiri, Indonesia kita…

Atau jangan-jangan kita hanya ber-akad saja, tapi tidak benar-benar mencintai apa yang telah disepakati bersama. Atau kita hanya memperlakukan Indonesia sebagai kekasih kita secara simbol, tapi hati kita, cinta kita dan kerinduan kita untuk orang dan negara lain? Tetapi kita sadar, nggak mungkin kita berganti kewarganegaraan, berganti hati sekilat itu. Hanya Indonesia yang membuat kita nyaman, tapi sayangnya, kita seringkali menyia-nyiakan “kasih sayang”nya. Akhirnya, Indonesia hanya sebagai simbol saja, bukan munculnya dari hati sehingga bisa tumbuh menjadi cinta.

Inilah potret diri kita sekarang. Kita marah, negara lain mengambil kebudayaan kita. Kita marah, benar-benar marah ada negara mengklaim Reog sebagai kebudayaan negara lain, Lagu ini, makanan tradisional itu diklaim bangsa lain. Kita juga marah kalau Sipadan dan Ligatan tercoret dari wilayah Indonesia.

Tetapi kita tidak pernah memperhatikan, memberi cinta tulus yang kita sebenarnya kita miliki.

mengibarkan Merah Putih di depan kontrakan. cuman tetangga belum ada yang pasang :'(


**
Sekarang sudah tanggal 13 Agustus. Saya lihat, yang mengibarkan bendera Merah Putih hanya segelintir orang, yang orang itu tak lain adalah aparatur desa, pak kepala lingkungan, kantor-kantor instansi pemerintah. 
Saya bukan bicara soal mata ajar Kewarganegaraan atau PPKn yang sejak dari SD hingga kuliah pun kita dapatkan. Saya berbicara lebih dari sebuah nilai….

Ini Agustus. Bukan nama orang, ini bulan Agustus.  Bukan ulang tahun saya pula. Ini bulan Agustus. Yang bisa kita ingat, 17 Agustus.

Jumat, Agustus 03, 2012

Antara Minyak dan Angin

coba judul postingnya diulang lagi: Antara Minyak dan Angin
Maksudnya apa minyak yang biasa dibuat kerokan orang yang masuk angin, lantas dinamai Minyak Angin??

Bukan, bukan itu yang saya maksud. Saya sedang tertarik membikin puisi. (#heh? itu bait puisi: pingsan)
Tapi entah semakin saya dalam tertarik, saya sering terjebak dalam permainan diksi kata, yang kadang satu kata bisa seperti gerbong kereta maknanya. Tidak pernah sesederhana itu. (Apalagi soal masuk angin)

Dulu waktu masih SD, saya suka nulis puisi. Beberapa pernah juara kecamatan sampai kota. Hanya saja, ternyata itu hobi yang makin lama makin terpendam, semenjak saya ketemu sama makanan yang namanya komputer. Sejak saat itu, awalnya saya yang penasaran dengan sastra, langsung pindah haluan. Tertarik dengan analisis, bukan saintis.

Antara Minyak dan Angin
kadang penulis punya arti sendiri dalam mengartikan puisinya. Bahkan yang orang lain artikan, belum tentu satu irama dengan apa yang diartikan penulis. Ya, itulah indahnya seni, indahnya sastra. 

Saya masih penasaran dan tertarik dengan sastra. 
Tapi yang lebih penasaran, apa korelasi Minyak dan Angin? :D 
bisa bikin saya nggak kuliah, mikirin ini... haha
Ada kesalahan di dalam gadget ini

jagoBlog.com