Senin, Februari 14, 2011

Shoot It On Your Camera!


Assalamualaikum...
Okee gan.... hehe.. lagi bingung mau nulis apa, hehe... jadi langsung aja ya..
Aku bersyukur banget bisa keterima jadi Reporter ITS Online. Mungkin beberapa orang menganggap reporter pekerjaan yang 'menyedihkan', tapi itu tak berlaku loh bagi saya.. 
Jadi reporter ITS Online, bagi saya adalah suatu formula transformasi yang cepat banget untuk mengetahui seluk beluk ITS, mengenal beberapa orang beken di ITS, pejabat ITS, bahkan pejabat Negara. kenal Dosen yang siapa tau suatu saat mendukung di akademik (hehe, amin). Dan Jugaaa... alhamdulillah, aku bisa pakai kamera SLR... Sebelumnya aku pakai poket, yang kupelajari ya angle2 foto.. tapi dengan SLR aku makin bisa mengeskplore diri... Alhamdulillah.. cekidot beberapa karya..
 




Kamis, Februari 03, 2011

Mr Rohedi, Dosen ITS, Penemu Angka Eksak Pi


Bagi saya ataupun kawan blogger, untuk menghitung angka pi hingga 1000 digit adalah hal mudah jika memakai kalkulator atau komputer, tapi bagi Ali Yunus Rohedi MT,  Dosen Jurusan Fisika FMIPA ITS (dosen saya), mampu menghafal 1000 digit angka pi. Penghitungannya pun tanpa menggunakan aplikasi komputer.

Saya terheran-heran, apa yang sebenarnya membuat Pak Rohedi  tertarik mengutak-atik angka pi. Yagn saya kenal, angka pi dari SD dan sampai sekarang ya kalau nggak 22/7 ya 3,14.

Tapi disinilah daya tarik bagi Pak Rohedi.  Sejak  perayaan hari Pi sedunia, 14 Maret 2009, angka hasil perbandingan keliling terhadap diameternya, ini diungkap bahwa angka pi itu irrasional dan tidak berulang seperti yang diungkap ilmuwan lama sebelumnya.

Nah menyadari hal itu serta mulai berpikir bahwa pi itu sangat penting dalam ‘kehidupan’ sains, Pak Rohedi mulai mencari kebenaran angka eksak pi. Menurut dosen asal Madura ini, the keys of science is Pi number. Ya, kalau ditranslate pakai bahasa saya angka pi itu kunci utama dunia sains. Pak Rohedi juga menambahkan, bahwa kunci utama sains terletak pada angka pi, semakin banyak angka pi yang digunakan, maka semakin banyak pula penemuan baru yang bermunculan.

Pak Rohedi memaparkan kepada saya saat saya wawancara di jurusan Fisika ITS, beliau sering memanfaatkan waktu tidurnya yang pendek akibat insomnia, untuk merumuskan angka pi. "Daripada gelisah tidak bisa tidur, lebih baik mengutak atik rumusan pi," terangnya.

Sampai saat ini, Pak Rohedi memiliki rumus-rumus formula yang siap dipatenkan. Oleh karenanya, Rohedi belum bisa membocorkan cara tepat menghitung angka pi, namun untuk mengenalkan dan mempresentasikan hasil temuannya, Rohedi memutuskan untuk menghafal rangkaian digit pi.

Keputusannya  untuk menghafal  1000 digit dan memposting di Youtube juga bukan tanpa alasan. Menurut Pak Rohedi, internet merupakan lahan yang sangat luas, mencakup dalam maupun luar negeri tanpa susah payah membayar biaya apapun. Apalagi Pak Rohedi sudah sering memposting artikel nya di media luar negeri. Pak Rohedi menuturkan, beliau ingin dunia kenal bahwa produk dalam negeri juga mampu menjadi saintis tingkat dunia.  Cita-cita beliau menulis artikel di majalah Sains dunia, Nature.

Rohedi mengaku, bukan hal yang mudah untuk mempresentasikan kelihaiannya di depan kamera. Lulusan S1 Jurusan Fisika ITS ini mengaku grogi saat disyuting. "Saya juga harus mempelajari bagaimana reflek tubuh, menulis cepat, dan harus tenang tidak terlihat gugup, karena kalau sudah diposting di Youtube, akan ada banyak orang di penjuru dunia yang lihat," jelasnya. Rohedi menambahkan, dirinya mampu menuliskan 1000 digit pi hanya dalam waktu sepuluh menit.

Kalau saat di Youtube, Pak Rohedi mampu menghafal 1000 angka, kini bertambah menjadi 1100 digit angka pi. ‘Saya tengah mempersiapakan diri untuk tampil di kancah nasional maupun internasional” tutur dosen peraih summa Cumlaude S2 Universitas Indonesia bidang Optoelektronika dan Aplikasi Laser ini.

Yang mencengangkan sekaligus membuat Pak Rohedi tersenyum yakni ketika beberapa orang memanggil nya akrab dengan sebutan Profesor. Padahal gelar tersebut hanya didapat jika seseorang sudah menjadi Guru Besar dan menempuh pendidikan doktoral.  Namun, Pak Rohedi yang pendidikan terakhirnya Magister di UI ini sering kali dipanggil “professor Rohedi”. Mungkin efek samping temuannya ya.  Tapi meski hanya dosen biasa, Pak Rohedi tetep kukuh ingin berkontribusi bagi bangsa dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Ada kesalahan di dalam gadget ini

jagoBlog.com