Rabu, Desember 19, 2012

PNS Kotor, Pajak Koruptor?

tulisan mbak Sinta Yudisia, penulis yang juga alumni STAN yang suaminya bekerja di Kementerian Keuangan
............

Untuk kesekian kali, gaji PNS kembali disebut-sebut sebagai pemborosan Negara. Salah satu yang sering dituding paling boros adalah departemen Keuangan, dengan remunerasi yang lebih tinggi dari gaji pokok. Departemen lain konon sering memprotes dan entah berapa kali, issue remunerasi ini akan dihapus. Pertimbangannya boros, dan banyak orang Pajak yang menduplikasi kerja Gayus alias sabet sana sini sehingga memiliki asset rumah tak kira-kira, rumah dan deposito berbunga-bunga.
Sepertinya, stigma pegawai Pajak memboroskan uang Negara dan penuh tikus-tikus koruptor sangat sulti dihapus. Bahkan suatu saat, saya pernah bertemu pejabat dari BUMN yang mengatakan “saya kenal semua orang Pajak dan semuanya busuk!” 
Eh? Apa ia kenal suami saya? Apa ia kenal teman-teman saya?
Sedikit kisah dibawah semoga membuat kita tersadar bahwa di antara sekian banyak koruptor, diantara penjahat, diantara para perampok Negara masih terdapat puluhan, ribuan, ratusan ribu pegawai jujur yang mencintai Indonesia. Di samping itu takut pada sebuah analogi sederhana : makan uang haram, besok-besok anak-anaknya jadi orang yang hanya bisa mempermalukan orang tua.

1. Mutasi berkala 
Rutin, sekitar 4 tahun sekali, seluruh pegawai pajak dan keluarganya cemas. Mutasi kemana lagi? Keluar Jawa? Sumatera Kalimantan? Atau ke tempat yang bahkan tak tercantum dalam peta?
Bila anak masih kecil-kecil, biasanya selalu ikut suami pindah. Tapi seiiring usia anak, sangat sulit memboyong kesana kemari, lagi pula tak semua anak cepat beradaptasi. Bahkan terkadang, mutasi sangat singkat, 2 tahunan saja. Saya pribadi bukan pegawai pajak, tapi cukup dekat untuk tahu kondisi teman-teman dan tentu saja, keluarga kami sendiri.
Mutasi biasanya diikuti sejumlah uang, yang jumlahnya, hanya menghitung ongkos keberangkatan istri, anak , dan pembantu. Di luar itu : mengontrak, masuk sekolah, membayar hutang dll, mana mungkin dipikirkan Negara?
Maka, ketika orangtua heran, kami tak punya alat elektronik hebat macam televisi layar datar, home theatre atau mobil ratusan juta; saya menjelaskan : tabungan kami biasanya terkumpul 3-4 tahun. Dan langsung habis dipakai saat suami mutasi. Teman-teman pun mengaku demikian, bahwa mutasi regular benar-benar menguras habis kantong.
Maka, akhirnya banyak keluarga Pajak yang memilih tetap tinggal di kampung halaman, berpisah dari suami tercinta. Kalau suami hanya Sumatera/Kalimantan, okelah. Kalau Papua? Ongkos berjuta-juta sekali PP tak cukup dari gaji+ tunjangan. Mereka rela menabung berbulan-bulan untuk bertemu anak istri tercinta. Kalau mau korupsi, tentu bisa. Tetapi siapa menjamin? Banyak teman-teman bertahan dengan suami PJKA – pulang jumat kembali ahad.
Saya sungguh salut pada pegawai pajak yang masih mencintai keluarga mereka, rela berburu tiket murah, rela menempuh perjalanan jauh dengan kereta api, bis, travel…bahkan kapal dan perahu! Orang-orang yang mencintai keluarga, mencintai tanahair dan bangsa. Terkadang, mereka malah tak bisa pulang akhir tahun karena harga tiket yang melangit!

2. Verifikasi lapangan
Kalau IRS Amerika sangat mentereng, dilengkapi senjata api, pegawai pajak verifikasi lapangan atau visit wajib pajak dengan mobil dinas. Name tag dan baju rapi + dasi. Tak selalu disambut pengusaha dengan ramah, seringkali disambut anjing-anjing galak atau pembantu/ satpam yang berkata : Tuan gak ada! Gak tau kemana!
Verifikasi lapangan di tengah hujan, panas, pojok pajak di mall-mall terkadang hari libur hingga malam menjelang. Sering saya berseloroh : ada duitnya gak, Mas? Suami hanya tertawa. Yang mengharukan, bila Pojok Pajak-hari libur di Mall mewah yang tidak terbayang oleh pegawai , maka anak istri menjenguk untuk sekedar jalan melihat-lihat. Melihat-lihat saja. Suami sempat bercerita bahwa ia ikut jaga pojok pajak di mall yang menyediakan counter/tenant permata. Takjub melihat permatanya, ingin membelikan saya sebuah cincin tapi lihat harganya kayaknya mending lupakan saja….hehe. Lagian, kalau saya pakai cincin begitu, nanti malah gak bisa tidur, kepikiran harus bayar pakai apa 

3. Suap
Yang ini berseliweran di kantor. Tapi sesungguhnya, bukan hanya di kantor Pajak saja kan? Guru, polisi, anggota dewan, dll berpotensi sebagai koruptor. Cara korupsi? Gampang saja. Kalau WP kena pajak sampai 1 M, bisa dinihilkan atau dikurangi hingga 100 juta. WP bisa membayar petugas pajak 100 juta. Toh ia sudah untuk 800 juta.
Memang, ada orang-orang Pajak yang kekayannya menakjubkan. Rumah di kompleks mewah, mobil rakitan Eropa. Tapi yang macam ini sedikit, jauh lebih banyak yang tetap dalam keadaan sederhana & prihatin.
Kenapa?
Indonesia bertradisi religi. Banyak orang percaya karma, takut berbuat buruk karena besok akan dibalas juga, langsung atau mengenai anak keturunan. Belum lagi, cerita kantor yang menyebut seorang pejabat X, dulu sangat suka korup. Dampaknya, main perempuan. Bayangkan kekayaannya : sekali main dengan perempuan, ia membelikan baju butik untuknya satu etalase! Akhir hidupnya menyedihkan, uang korupsi yang M-M-M habis gak karuan. Menjelang meninggal pak X bahkan tak punya uang hanya untuk sekedar menambal ban.
Cerita-cerita macam itu makin menguatkan pegawai pajak : apa yang dimakan anak istri, adalah yang halal!

4. Kontraktor, penyicil
Banyak pegawai pajak yang masih ngontrak hingga belasan tahun, baru mampu menyicil rumah dan mengumpulkan DP di tahun ke 15. Rumah dulu atau mobil dulu? Tergantung…yang punya kemampuan mencicil rumah dan mobil, biasanya yang suami istri bekerja. Apa gajinya kurang? Banyak atau sedikit, harus disyukuri. Tetapi mutasi regular, harga-harga yang menanjak cepat, membuat pegawai pajak pun harus berhitung cermat apalagi bila memiliki anak lebih dari 2! Askes dan pensiun hanya sampai anak ke2, bila ingin mempersiapkan masa depan anak 3,4,5 dst maka harus semakin mengencangkan ikat pinggang

5. Bisnis sampingan
Itulah sebabnya, para istri pegawai pajak mengusahakan bisnis sampingan seperti catering, laundry, rental. Pegawai pajak tak sempat lagi memikirkan bisnis sampingan –meski ada yang memang trampil berbisnis- sebab waktunya habis dari jam 7- 5 sore mengurus hal ihwal pajak yang semakin mencekik di akhir tahun atau sekitar April-Mei.
Pegawai pajak, sama saja dengan pegawai lain yang di tanggal 10-15, mulai banyak-banyak berdoa untuk sampai di tanggal 31. Para istri mencermati uang, membaginya susah payah. Bila ada energy sisa, beberapa pegawai pajak mengajar Brevet. Bila tidak, maka ansich dari pendapatan bulanan 

6. Keluarga sakinah
Meski bertahan dalam stigma, bertahan dalam tuduhan dan issue hapusnya remunerasi,bertahan dalam mutasi sekonyong-konyong yang menghabiskan uang hingga ke rupiah terkecil; mereka yang tetap jujur istiqomah mendapatkan banyak hal berharga yang jauh lebih mahal dari uang ratusan juta, milyaran. Sebuah keluarga sederhana yang solid, dengan anak-anak sehat dan pintar yang menghargai seorang ayah jujur yang tulus.
Saya sering terharu melihat keluarga pegawai Pajak yang tetap sederhana dalam rumah kecilnya, dalam kendaraan roda dua, pakaian sederhana dan semua pola hidup ng jauh dari unsure mewah Tetapi melihat betapa terhormatnya seorang lelaki yang bertanggung jawab menafkahi keluarga dengan harta halal, saya yakin, keluarga-keluarga ini akan selamat dunia akhirat InsyaAllah.

Dan di akhir tahun, para pegawai Pajak sibuk mengejar WP yang enggan menunaikan kewajiban pajak, demi memenuhi kas Negara untuk menjalankan APBD dan APBN. Sebagai istri dengan pemikiran sederhana saya bertanya, melihat suami yang kepayahan luar biasa baik fisik dan mental, “ emang, kalau memenuhi target, dapat apa Mas? Penghargaan atau kompensasi dari Negara?”
Jawabannya saya sudah tahu, gelengan kepala.
Kepada anak-anak, saya tekankan.
Bahwa ayahnya adalah salah satu pegawai jujur yang hingga kini masih bersepeda motor kemana-mana. Ayahnya bukan pegawai rendahan, tapi kepala seksi.
“Kapan kita beli mobil?” kata anakku.
4 anak dengan sepeda motor memang sudah tak layak.
“Secepatnya,” kataku. “tahun depan, InsyaAllah.”
Aku mengingatkan anak-anakku bahwa ketika kampi membeli rumah seluas 200m2 di Surabaya, semua adalah rizqi Allah SWT. Kami saat itu tidak punya kemampuan, tapi Allah membantu. Kalau mau beli mobil sekarang dengan uang ‘panas’, bisa. 
“Tapi apa kalian mau, rumah kita mewah , mobil banyak, tapi rumah kita selalu berisi pertengkaran? Kalian tak sehat jiwaraga? Ada sebuah kunci lain dalam rizqi bernama barakah.”
Alhamdulillah, anak-anak memahami kejujuran. Mereka taat pada orangtua, rajin mengaji, suka mendengarkan nasihat. Mereka bersemangat mendiskusikan beragam hal mulai agama, politik, ummat, ilmu pengetahuan. Kalau ada masa-masanya nakal…ya, tak mungkin selamanya baik-baik saja . Tapi, bahkan saat anak-anak dalam keadaan sangat memancing kesabaran, ucapan ini sangat bertuah : Ummi nggak ridho! Siapa yang mau doa Ummi?
Bila, tanggal tua, meja makan kami kosong, maka anak-anak akan berkata,
“…..Ummi Abah lagi bersabar ya?”

Bukan hanya anak-anak kami yang demikian. Banyak anak-anak lain yang dibesarkan oleh orangtua yang jujur, memiliki komitmen dalam hidup.
Memiliki anak yang sholih, taat, tampaknya harus dimulai dari rizqi yang halal.

Jumat, Desember 07, 2012

Gagasan

Iseng-iseng, nyoba-nyoba. Selama tiga hari, tiga artikel gagasan saya kirim ke Jawa Pos berturut-turut.
Alhamdulillah, hari keempat nongol salah satu gagasan saya..

Jawa Pos, Jumat 7/12/2012 Halaman 4 Kolom Gagasan

*maaf gambarnya amburadul gara2 koneksi upload super mini. klik gambar kalau pingin memperbesar

Alhamdulillah di Jawa Pos sudah pernah mejeng nama ane.. minimal penikmat Jawa Pos dengan ratus ribuan ekslempar per harinya, pernah tahu nama saya :)
Selanjutnya Opini, selanjutnya masuk Kompas. buku, buku, buku buku....

Rabu, Desember 05, 2012

Suara Rakyat

Suara Rakyat Kecil untuk Ahok

Kalau saya sedang browsing dan kebetulan koneksi sedang ngebut, saya selalu sempatin untuk liat video sepak  terjang pak Jokowi dan Pak Basuki (Ahok) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Video yang diupload akun dengan nama PemprovDKI ini beberapa saya download dan saya simpan di harddisk.

Saya paling tertarik kalau Ahok lagi marah-marah sama stafnya sendiri. Ya, terang aja ya marah, anggaran yang kecil-kecil di mark up (dilebih-lebihkan) hingga 3 sampe 4 kali, bahkan yang seharusnya nggak ada jadi malah ada. Yang harusnya untuk gaji orang kecil, malah dikurangin sama akal-akalan pejabat dinas. Yang paling koplak #dan favorit saya, yang ini:



Di video itu, mereka sedang rapat anggaran Dinas PU. Si Ahok dengerin si Kepala Dinas PU yang botak itu (maaf nggih pak, saya sebut botak karena identik pak dengan yang lain, hehe) yang lagi presentasi anggaran dinasnya. Ketika si Ahok menanyakan detail anggaran "nggak jelas" seperti: Perencanaan Pemeliharaan bla bla blaa, atau Pengarsipan data dan Pembangunan sistem data Elektronik (bahasa arek teknik mudah: scanning). Ahok menanyakan itu, kontan semua ruangan bingung. Celingak celinguk, tolah toleh. Kayak nggak paham banget dengan apa yang ia tulis dan ia presentasikan. Untunglah, Ahok bisa nahan emosi saat itu. Saya, malah cekikan liat si kepala Dinas yang kagak tau scanner itu berapa, seberapa ukurannya dan (mungkin) nggak tau buat apa sebenarnya. Haha... padahal dia bukan anak SMA lagi ya, wong saya yang orang cilik aja tau dari SMA  kalau scanner itu paling banter 5 juta lah ya.. Bisa-bisanya dimark up awalnya sampai 600 juta. Terus ketauan Ahok boongnya, diturunin jadi 170juta, hanya untuk beli scanner. Ukurannya A4, A3, A2 aja bingung, padahal mereka sehari-hari kerjaanya ya sama kertas-kertas besar itu. Apalagi mereka rata-rata anak teknik, kuliah di kampus yang mentereng, masak ukuran kertas aja celingukan. Setahu saya nih pak, scanner,fotokopi sama printer itu "cuman" 5-7 juta maksimal dengan merek terbaik. Kalau saya, 170 juta rupiah, mending beli mobil daripada printer. Haha...
Anehnya lagi, Dinas sekeren PU belum punya scanner kawan. Oh! Selama ini kemana aja, bung! Ke laut?

Saya mulai berpikir, nampaknya kegiatan markup anggaran, mengambil jatah dari APBN/APBD nampaknya nggak hanya berlaku di jajaran dinas DKI saja. Siapa yang nggak tergoda melihat uang gede-gede hasil iuran rakyat kecil, tanpa susah payah. Yang nggak tergoda, ya cuman yang hati aja. Untuk kali ini saja, kita tahu bagaimana pejabat-pejabat dinas mempermainkan uang kita. Sebelum-sebelumnya, gimana?

Sebagai rakyat kecil dan jelata, yang kadangkala "manja" dengan bantuan dan subsidi pemerintah, video ini seperti hal yang biasa saja. Tidak ada istimewanya. Namun sebagai pemuda, maupun sebagai anak bangsa, saya benar-benar interest soal video yang diunggah ini. Saya tidak tahu, untuk apa saya habiskan waktu "pengangguran" ini untuk menonton video dengan durasi puluhan menit, hingga kadangkala berjam-jam ini. Saya hanya merasa, ini aset dan bahan belajar selama "nganggur" ini untuk mempelajari gaya kepemimpinan seseorang. Saya apresiasi baik niatan pak Jokowi - pak Ahok ngunggah video rapat dan aktivitasnya di Youtube. Tidak hanya untuk pemuda, kalangan pejabat, atau praktisi dan pengamat politik saja. Namun, rakyat kecil dan jelata juga butuh tontonan ini. Setidaknya agar mereka tahu, orang-orang yang mereka pilih di bilik kecil itu, "ngapain aja sih kalau udah kepilih".

Tapi, semoga rakyat kecil juga punya internet yang memadai ya, Pak...
hehe..

Senin, Desember 03, 2012

The Extreme Outlier

Outlier. Entah sejak kapan kata ini tercam di dalam benak saya. Istilah ini meminjam dari kawan saya di kampus ITS dulu waktu masih jaman2 maba gundul (maba ITS identik gundul karena perintah senior). Ia mengartikannya sebagai orang yang berusaha keluar dari rel normatif kebanyakan orang. Ketika orang memilih itu itu aja, dia akan memilih ini. Istilahnya, mungkin out of the box lebih mainstream sering kita dengar. Dalam artian saya, outlier bertindak out regularly, diluar kebiasaan namun tetap postif, bahkan lebih positif dampaknya.

----

Hari itu wisuda program diploma 1 dan diploma 3 Keuangan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Hari itu pula, saya yang baru tidur jam 1 an dini hari, mendadak harus bangun jam tiga dini hari itu pula untuk mengikuti prosesi wisuda. #Eh, maksudnya ikut-ikutan ngeramein wisuda kawan-kawan. Hemm.. tidur cuman 2 jam, mandi kilat lanjut ke kampus 15 menit setelah mandi, benar-benar cetar membahana #OpoSihIki. Apalagi bagi orang yang nggak ikut wisuda seperti saya. Hehe... Untuk apa sepagi itu sudah rapi duduk dalam bis yang berjajar ke kampus? Ya untuk menghadiri prosesi wisuda kawan-kawan/saudara-saudara saya sekampus, dan (harusnya) juga wisuda saya. :) :) Demi saudara-lah istilahnya, mungkin sama seperti orang tua dan keluarga wisudawan yang rela jauh-jauh dari kampung meninggalkan kota domisilinya demi mengikuth wisuda anak kesayangannya di Sentul International Convention  Center (SICC), Bogor.

Jauh sebulan sebelumnya, saya sudah membulatkan niat untuk nggak ikutan wisuda saya. Pasalnya, ibu dan bapak di kampung ternyata akan kesulitan kalau dari kampung-Bogor, akan memakan fisik dan materi mereka berdua. Saya sependapat. Akhirnya saya usul, saya tetap ke Jakarta selama seminggu waktu wisuda itu, dan uang pendaftaran wisuda ditabung untuk ber"wisuda" dengan orang lain, dengan orang-orang yang menghabiskan tenaganya di jalan, untuk orang-orang yang menghabiskan suaranya di perempatan jalan, untuk mereka yang menguras keringatnya di jalanan demi keluarganya di rumah.

untuk mereka :)

Bapak ibuk sepakat,  hati saya lega. Lega karena bapak ibu tidak kesusahan transportasi dan fisiknya untuk ke Bogor, juga tidak bingung soal penginapan dan harus cuti minimal 3 hari kerja buat ibu. Saya juga bisa mencari kenalan dan kawan baru dan saudara baru sebanyak-banyaknya di kampus pusat dan ibukota ini.

Pagi hari saat wisuda. Aku dinyatakan sebagai wisudawan dengan cara yang agak nyeleneh, unik dan aneh. Dengan modal jas bikinan bapak ibu, dasi dan setelan yang pas dengan dasinya, Ceklik! difoto seorang kawan. Jadilah foto dengan latar SICC saya upload di facebook pagi itu juga. Kontan alhamdulillah, teman-teman memberi komentar positif dan banyak yang mendoakan. Bahkan juga tak sedikit yang memberi ucapan "Selamat ya Ton, atas wisudanya,". Bahkan ada kakak senior di kampus ITS mencak-mencak, wisudaku dahului wisudanya.

Dalam hati berkata, "saya memang lulusan kawan, tapi saat itu tidak benar-benar wisuda, kawan..... hihihihiii".
"wisudawan" tanpa toga

Ternyata kisah aneh ini tidak berhenti sampai sini saja. Dapat tiket undangan (seharga 100ribu) dikasih gratis kawan saya, karena adiknya nggak mau masuk gedung. Tapi sayangnya, karena kelamaan nggak masuk gedung, sedangkan wakilnya pak Menteri Keuangan sudah masuk gedung, praktis kami yang di luar gedung nggak dibolehin masuk dengan alasan menghormati pak Menteri.

Jujur men, saya miris lho! Menteri maupun saya bahkan bapak-ibu yang juga dilarang masuk itu juga sama-sama manusia kok. Benar-benar sama. Kami cuman ingin hak kami masuk, dan masuk pun melalui pintu tribun, tidak mengganggu hak bapak ceramah (atau apalah istilahnya) di depan podium. Podium dan tribun benar-benar jauh, bahkan orang sliweran nggak akan terlalu nampak terlihat. Mungkin saya nggak marah sama bapak, tapi kecewa saja karena bapak tidak menginstruksikan panitia untuk membiarkan saja kami masuk. Atau mungkin panitia yang nggak konsultasi dulu sama asisten bapak, kami dibolehkan masuk apa nggak. Gini nih, pejabat. Kalau sudah jadi orang "besar" ya janganlah membuat kecil orang yang "kecil". 
Contoh kecil lain, kawalan bapak ibu pejabat di jalan raya, yang sampai merelakan orang lain minggir dan berhenti, terhenti aktivitasnya karena satu orang lewat. Pak, sungguh itu tidak keren. Lebih keren dan saya hormat dengan mobil ambulance yang lewat, ikhlas untuk keadaan darurat itu. Atau mobil bapak ibu mau saya samakan dengan mobil ambulance, dan isinya ambulance sama dengan isi mobil bapak ibu? #PikirSendiri :P #ups... hehe Maaf pak bu, saya memang gini, suka ceplas-ceplos namun mikir dengan logisnya. Saya lebih suka kalau panjenengan bisa merasakan kemacetan yang rakyat Anda rasakan. Bagaimana mau mengatasi masalah rakyat kalau Anda tidak pernah merasakan, bagaimana mengatasi banjir kalau tidak pernah kebanjiran sendiri, bagaimana tau cara cerdas mengatasi macet kalau tiap lewat jalan selalu diberi jalur khusus anti macet?.
Yuk mikir pak. eh bukan mikir cara menang pilkada ye.. mikir rakyat!

Balik ke topik lagi, sobat.. Maaf maaf emosi :D :D #ambil wudhu, nulis lagi. :)

Ajaibnya, setelah 3 jam di depan gedung kepanasan dengan jas keren yang sudah tanggal saya pegang karena gerah ini, pintu tribun dibuka. Baru beberapa menit duduk, dapat sms.

**
Saya duduk di kursi utama, kursi undangan, kursi VIP. :D
Sms tadi ajakan pegawai Balai Diklat Keuangan (BDK) Manado yang datang ke SICC sebagai undangan. Saya diajak masuk melalui pintu VIP. Untung jas saya matching dengan undangan "sebenarnya". Hampir sama dengan Pak Budi Setiawan, dosen Akuntasi yang hadir juga disana sebagai undangan BDK Malang. Duduk bersama beliau, bersama para pegawai kementerian keuangan, dosen-dosen STAN. Dan dengan modal jas, tidak ada yang curiga. *setelah pulang, mikir lagi, janggut juga mendukung penyamaran :D

Eh, tiba-tiba pak Budi nunjuk saya sembari ngobrol dengan dua orang dosen STAN. "Nah, kalau ini nih, ini sebenarnya mahasiswa bu, sebenarnya ini wisudawan duduk di belakang. Tapi ini nih, akal-akalan aja dia pake jas, duduk di sini," ucapnya sambil ketawa, entah bangga atau malah emang kocak.
Saya pun melempar senyum ke dua dosen tadi, dan nahan malu juga *dikiit :P

Senang, akhirnya saya hanyut dalam kegembiraan teman-teman. Bangga, meski bapak ibu saat itu di rumah, mereka juga pasti senang.

----
Sebulan kemudian, saya pamerin foto teman-teman wisuda ke ibu, beberapa ada foto saya.
Nggak nyadar, mata ibu berkaca-kaca, suaranya mendadak parau. "Seharusnya meski tanpa orang tua, kamu wisuda le," tutur ibu lirih.
Saya menghela nafas dalam, hanya mampu berkata dalam hati,"Saya lebih senang seperti ini, sudah dipertimbangkan akan lebih baik seperti ini, meski terlihat aneh, tapi saya pun bahagia tanpa wisuda, bahkan mungkin mereka yang wisuda tidak memiliki kebahagiaan yang aku rasakan,".
Menurutku, bahagia wisuda boleh saja, hanya saja ia semu. Wisuda bukan "Wis.... uda.." (selesai,red). Amanahnya lho yang saya pikirin, habis ini kerja itu artinya akan menjadi diri kita 3/4 dari utuh sejati diri kita. (1/4 lagi apa yaa :P, hehe...)


Sewaktu sambutan (baca: dagelan) perwakilan mahasiswa di depan kepala BDK, dosen STAN dan kawan-kawanku. Tak lupa bawa contekan sambutan :) :)

-----
tiba-tiba ada chat masuk. kawan saya di ITS. "ckckck... Outlieeerr!"

Minggu, Oktober 28, 2012

Kisah pendidik

Ibuku seorang guru, namun bukan seorang Guru Besar layaknya di perguruan tinggi. Ibuku seorang guru sekolah dasar. Sekolah dasar tempat beliau bertugas, bukan sekolah elit di tengah kota, juga bukan berstandar nasional maupun internasional. Beliau mengajar di sekolah biasa, tidak lebih diisi dengan anak spesial, harapan bangsa, putra-putri petani, nelayan dan pedagang. Istilah elite yang sering terdengar, rakyat kecil, rakyat biasa.

Beliau ada pendidik akidah dan akhlaqul Islam, sebagai Guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Hemat saya, beliau yang bertanggung jawab, setelah orang tua siswa, atas bagaimana karakter Islam yang terbentuk kelak. Beliau menjadi guru, karena waktu sekolah dulu, Ibu milih sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama), yang kala itu punya ikatan dinas dengan Kementerian Agama RI.

Sebagai guru agama, menurut saya tanggung jawab yang dipikul beliau lebih besar dibandingkan dengan guru biasanya. Selain tugas guru untuk mendidik dan mengenalkan ilmu kepada siswa, beliau dan rekan guru agama yang lain juga bertugas menanamkan agama ke siswa didik, yang akan digunakan kekal hingga dewasa dan kelak di akhirat.

Kalau dipikir-pikir, Ibuku memang tidak ada duanya. Tidak hanya kepada murid, beliau juga telaten mendidik tiga anak laki-lakinya, termasuk penulis ini. J Ditambah, tugas mulia beliau untuk keluarga.

Kembali lagi ke topik awal, antara beliau dan kiprahnya mendidik. Soal gaji, saya tidak pernah mendengar beliau risau soal itu. Seakan percaya, rejeki selalu datang di saat yang pas. Tapi Alhamdulillah, beliau lulus tunjangan profesi / sertifikasi, sehingga menikmati tunjangan kinerja beliau. Meski mendapat gaji lebih, beliau makin semangat bekerja, tidak mau mendapat tunjangan namun kerja hanya seadanya saja. Kini, kesibukannya bertambah sebagai koordinator administrasi sekolah, ditambah juga sebagai bendahara Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Kini, umurnya mendekati masa pensiun, beberapa tahun lagi. Namun kinerjanya tidak malah menurun dan padam, justru makin berpijar. Melihat anak-anaknya bersekolah dan kuliah, makin semangat beliau menjalani hidup.

Ibuku, tidak perlu kau rengkuh gelar professor untuk menjadi orang berguna bagi sesama. Bagi kami, sosok guru seperti ibu adalah sosok terbaik untuk jadi Guru Besar di hati kami.


“…Ibu Guru kami..pandai bernyanyi…
pandai bercerita..asyik sekali…
kami dibimbingnya… dengan sepenuh hati…
Jadi orang berguna… di kemudian hari…”
-cipt. Mochtar E.-

Selasa, Oktober 02, 2012

Siap-siap Migrasi

Saya coba awali hari ini dengan membuat mini posting di blog ini. Ya hanya beberapa larik kata saja.
Kemarin saya dapat tawaran untuk beli domain di ziqishosting.com. Itu sebenarnya perusahaan punya teman di ITS. Lumayan murah, untuk setahun saja kita domain .com hanya menghabiskan Rp 75.000,-

Kenapa hanya? Karena kalau saya hitung per hari, hanya Rp 205,-. Jadi suatu kerugian kalau per hari tidak posting blog, maka Rp 205,- melayang.. hahahaa.. 

Semoga dengan beralihnya domain blog ini, bisa membuat blog ini dan penulisnya makin eksis konsisten.
Sedikit bocoran saja, emang mau pindah kemana sih Om domainnya?
tunggu tanggal mainnya di fathoniawan.com. Hehe...

Senin, Agustus 13, 2012

Jangan Kibarkan Merah Putih mu!

Kiapa mamasang bendera, kak?” (kenapa pasang bendera, kak) tanya bocah perempuan gendut seumuran kelas tiga SMP yang lagi sibuk nongkrong dengan beberapa kawannya di pertigaan depan rumah. Mereka semua terdiam setelah pertanyaan itu terlontar. Mereka terus mengamati gerak-gerik saya dan Dafit yang sedang memasang bendera merah putih. Mereka terdiam, kami sengaja tidak menjawab.

Beberapa saat kemudian, “Ohhh iyaa, 17 Agustus-lah” jawab si Lidya, teman sebayanya yang juga anak pemilik kontrakan saya. “So lewat kang?” (Sudah lewat, kan?) timpal si gendut tadi bersemangat seakan-akan benar hari Proklamasi memang sudah lewat.
 
Glek! Kini saya yang terdiam. Benar-benar terdiam, hingga aktivitas mengikat tali bendera di lingkar bambu juga saya hentikan. Saya pandang mereka, ada yang ngecek kalender di handphonenya. “eh, beluum,” jawab seorang yang tadi mengecek kalendernya. Saya lantas kembali memasang bendera.

Dalam hati menimpali, “Bahkan ini sudah 12 Agustus,”. 
–––––––––––––––––––

Memasuki bulan Agustus memang jauh tak semeriah bulan Juni kemarin, saat euphoria menyambut Pesta Sepak Bola Eropa, Euro 2012. Saat awal Juni lalu, bahkan bulan Mei akhir sudah banyak atribut-atribut bendera, stiker maupun kaos yang dijual. Bukan itu saja, tak sedikit orang-orang di Manado dan kota sekitar yang memasang bendera negara-negara Eropa tim kesayangannya. Ukurannya fantastis besar, sebesar “cinta” kepada tim kesayangannya. Tak hanya itu, atribut stiker bendera negara orang itu juga dipasang di mobil, full body sticker di motor bahkan ada yang ganti warna rambut.
salah satu sudut gang kota ini, terlihat bendera Perancis dan Jerman berkibar di depan rumah penduduk Indonesia
 
Saat itu, saya miris. Saya bandingin dengan tim negara kami, tim Merah Putih Indonesia kalau berlaga di SEA Games, Tiger Cup, ASIAN Cup, seleksi pra World Cup dan laga Internasional lainnya, tidak pernah ada yang berani mengibarkan bendera Merah Putih kita. Meski tim Indonesia bukanlah sekelas mereka di Eropa, setidaknya kalau tidak bisa menghargai diri sendiri, jangan melebih-lebihkan negara orang lain.

Pak Kamil Sjuaib, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) juga tak kalah terkejutnya ketika mendarat di Manado. Kedatangan beliau saat itu untuk memberi kuliah umum di Balai Diklat Keuangan (BDK)Manado. Sepanjang perjalanan, beliau terheran-heran. Beliau lantas bertanya ke pak Budi Setiawan, Kepala BDK Manado untuk mengobati rasa penasarannya. “Lho pak, tadi ada banyak bendera Italia, terus ini ada bendera Jerman, kok di depan sana ada bendera Spanyol besar di depan rumah-rumah penduduk?,” tanyanya kurang lebih demikian. Pak Budi lantas menjawabnya. Saya paham dengan pertanyaan pak Kamil. Beliau mungkin keheranan sekaligus khawatir beliau mendarat di negeri orang.. ^_^ hehe… (Saya mendapatkan ini dari cerita pak Budi)

Hemmm.. kawan...
Ini sebenarnya bukan soal nasionalisme biasa. Ini soal cinta
Kita memang hidup di negara Indonesia, tapi tidak mencintai alam dan wilayah bahkan malah merusak alam kita sendiri. Kita memang menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga kita yang merusak tatanan bahasa kita, lebih gaul pakai “elu, gue, ayas, kita,” dan lebih sering memakai istilah asing yang sebenarnya sudah ada di tatanan bahasa Indonesia. Kita memang mengakui Merah Putih bendera kita, tapi hanya sebatas pengakuan saja. Kalau benar itu adanya, apakah kita sudah cinta dengan negara kita? Apa kita benar-benar mencintai bangsa kita sendiri, Indonesia kita…

Atau jangan-jangan kita hanya ber-akad saja, tapi tidak benar-benar mencintai apa yang telah disepakati bersama. Atau kita hanya memperlakukan Indonesia sebagai kekasih kita secara simbol, tapi hati kita, cinta kita dan kerinduan kita untuk orang dan negara lain? Tetapi kita sadar, nggak mungkin kita berganti kewarganegaraan, berganti hati sekilat itu. Hanya Indonesia yang membuat kita nyaman, tapi sayangnya, kita seringkali menyia-nyiakan “kasih sayang”nya. Akhirnya, Indonesia hanya sebagai simbol saja, bukan munculnya dari hati sehingga bisa tumbuh menjadi cinta.

Inilah potret diri kita sekarang. Kita marah, negara lain mengambil kebudayaan kita. Kita marah, benar-benar marah ada negara mengklaim Reog sebagai kebudayaan negara lain, Lagu ini, makanan tradisional itu diklaim bangsa lain. Kita juga marah kalau Sipadan dan Ligatan tercoret dari wilayah Indonesia.

Tetapi kita tidak pernah memperhatikan, memberi cinta tulus yang kita sebenarnya kita miliki.

mengibarkan Merah Putih di depan kontrakan. cuman tetangga belum ada yang pasang :'(


**
Sekarang sudah tanggal 13 Agustus. Saya lihat, yang mengibarkan bendera Merah Putih hanya segelintir orang, yang orang itu tak lain adalah aparatur desa, pak kepala lingkungan, kantor-kantor instansi pemerintah. 
Saya bukan bicara soal mata ajar Kewarganegaraan atau PPKn yang sejak dari SD hingga kuliah pun kita dapatkan. Saya berbicara lebih dari sebuah nilai….

Ini Agustus. Bukan nama orang, ini bulan Agustus.  Bukan ulang tahun saya pula. Ini bulan Agustus. Yang bisa kita ingat, 17 Agustus.

Jumat, Agustus 03, 2012

Antara Minyak dan Angin

coba judul postingnya diulang lagi: Antara Minyak dan Angin
Maksudnya apa minyak yang biasa dibuat kerokan orang yang masuk angin, lantas dinamai Minyak Angin??

Bukan, bukan itu yang saya maksud. Saya sedang tertarik membikin puisi. (#heh? itu bait puisi: pingsan)
Tapi entah semakin saya dalam tertarik, saya sering terjebak dalam permainan diksi kata, yang kadang satu kata bisa seperti gerbong kereta maknanya. Tidak pernah sesederhana itu. (Apalagi soal masuk angin)

Dulu waktu masih SD, saya suka nulis puisi. Beberapa pernah juara kecamatan sampai kota. Hanya saja, ternyata itu hobi yang makin lama makin terpendam, semenjak saya ketemu sama makanan yang namanya komputer. Sejak saat itu, awalnya saya yang penasaran dengan sastra, langsung pindah haluan. Tertarik dengan analisis, bukan saintis.

Antara Minyak dan Angin
kadang penulis punya arti sendiri dalam mengartikan puisinya. Bahkan yang orang lain artikan, belum tentu satu irama dengan apa yang diartikan penulis. Ya, itulah indahnya seni, indahnya sastra. 

Saya masih penasaran dan tertarik dengan sastra. 
Tapi yang lebih penasaran, apa korelasi Minyak dan Angin? :D 
bisa bikin saya nggak kuliah, mikirin ini... haha

Selasa, Juli 31, 2012

Beda Rakaat namun Satu Nafas

Perbedaan kadangkala menyulut pertikaian, apalagi kalau sudah menyinggung unsur SARA. Namun, perbedaan kadang bisa jadi indah.

Manado memang muslimnya minoritas. Masjid juga jumlahnya sangat terbatas, jauh lebih banyak gereja. Itu juga susahnya kalau bepergian di Manado. Masjid jarang, kita shalat lima waktu. Apa shalat di gereja aja? Hehe… Pertanyaan retoris kawan saya..

Di Perumahan Paniki Dua, tempat saya tinggal,  hanya ada satu masjid. Al Muhajirin, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Jamaah di masjid ini sangat bermacam-macam warna. Ada yang sudah fasih Al Qur’an dan Hadist, ada yang tekun beribadah, hingga ada yang memang masih dalam taraf mualaf. Pun, Imam (perawi hadist) yang dianut juga bermacam-macam, campur jadi satu masjid.

Biasanya kalau di Jawa, yang kita bisa temui masjid hanya berjarak 1-5 km saja, bakal punya satu pakem di masjid itu. Misalkan, masjid A meyakini hadist X, masjid B yakin hadist C. Sehingga, jamaah tinggal memilih masjid mana yang sesuai dengan keyakinannya dalam beribadah. Kalau di Manado?

Ini terjadi dan bisa terbukti saat terawih kemarin. Sudah umum kalau ada umat muslim memakai 8 rakaat tarawih, ada juga yang 20 rakaat. Masjid Al Muhajirin mengambil jalan tengah untuk menampung semua jamaah, yakni memakai 20 rakaat, dengan kesepakatan yang meyakini 8 rakaat saja dipersilakan untuk menunggu shalat witir. Alhasil, saya sempat shock. Hampir sepertiga isi masjid berhamburan keluar setelah rakaat kedelapan tarawih dilakukan. Riuh, ramai. Mulai dari shaf depan sendiri, hingga belakang ada yang “undur diri” setelah rakaat delapan. Jamaah perempuan juga seperti itu.

Meski demikian, saya pikir itulah yang menyatukan kita. Tetap dengan panji-panji Islam, kita selalu merangkul perbedaan dibalut kebersamaan. Puasa Jum’at, puasa Sabtu tetap jadi satu dalam nafas Islam. 
Kalau Anda puasa Minggu, jadi hutang satu. :) 

Hanya saja, kadang saya tidak habis pikir. Di masjid ini, kadang shalat bisa dilewati orang. Meski berulang kali tangan saya julurkan untuk menghalau yang lewat di depan saya yang sedang shalat, tapi selalu berulang. Ada juga, di dekat mimbar khutbah, ditumpuk beberapa Al Qur’an, dan anehnya di bagian atas ada kotak tisu. Sempat ada mas Kukuh, pegawai BDK ngetweet saya, “Al Qur’an dan kotak tisu lebih berharga mana?”.

Tak jarang kita, anak-anak yang sering adzan tanpa memakai kopyah (songkok), kena marah satu orang imam yang menurut saya salah tafsir. Kata beliau, untuk adzan disini harus pakai songkok, “Begitu memang aturannya, beda daerah beda adat,” tegasnya. Ehem, maaf pak, Islam bukan adat istiadat…

Ya begitulah perbedaan… Yuk mari disikapi dewasa ^^

Sabtu, Juli 28, 2012

Sahur oh sahur...

Kata iklan di tipi-tipi, atau sering didengar dalam ceramah, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Saya juga merasakan demikian, meski itu bukan sugesti dari iklan tipi. :P

Pasalnya begini, saya merasa apa yang masuk ke dalam mulut, berlanjut ke perut, sangat berbobot dibandingkan hari-hari bukan bulan Ramadhan. Belum lagi soal pengeluaran uang yang bisa diirit.  Mungkin ini yang dikatakan orang berkah. Pun dikatakan saya, hehe…

Berbobot : 
artinya sarat gizi. Sebagai anak kos, yang juga notabenenya tinggal di daerah yang kebutuhan hidupnya tinggi dan mahal-mahal, bisa makan rutin itu sudah luar biasa. Tiap hari makan sayur, tahu, tempe, kalau sarapan gorengan kering, kalau malam seiris ikan kecil, itu sudah berkah luar biasa. Alhamdulillah, saya masih memakan masakan yang halal. :)

Namun, semenjak di masjid Perumahan menyelenggarakan menu sahur gratis, semuanya terasa istimewa. Jangan dulu memikirkan lauknya apa. Gratis aja bisa jadi kabar yang paling menggembirakan rakyat kos-kosan. Apalagi kalau tahu lauknya. Ikan utuh, telur rebus bumbu merah utuh, mie “Menjangan”, aneka sayur, plus nasi dan kerupuk. Itupun kadang melimpah ruah. Belum lagi jatah bulanan dengan menu ‘konsisten’-tahu-tempe, sayur, seiris ikan- yang biasanya kami ambil siang dan malam, dijadikan satu saat berbuka puasa. Subhanallah…

Akhir-akhir ini nafsu makan saya menurun drastis perkara beberapa sebab, membuat saya kurang nafsu makan nasi, namun mengambil lauk lebih banyak. Makin berbobot dibandingkan biasanya, nasi menggunung, lauk sejumput.. hehe…

Irit :
Selama ini, urusan makan kami mengeluarkan uang untuk katering bulanan, membeli beras dan membeli gorengan untuk sarapan. Adanya puasa, kami bisa mengirit beberapa sektor. Beras, tentu bisa mengirit jika delapan penghuni kontrakan sahur di masjid juga, yang biasa nanak beras tiga kali jadi dua kali bahkan sekali. Untuk sarapan, sudah tentu kami tidak mau serta merta membatalkan puasa dengan sarapan. Pengeluaran yang lain bisa diirit dari sektor jajan di kampus, pasti tentu nggak kami lakukan. 

Usut punya usut, soal sedekah makanan, muslim di Manado yang notabenenya orang yang nggak ragu soal mengeluarkan uang, juga nggak ragu soal sedekah. Begitu pula sedekah makanan. 

Saat pertama kali diumumkan bahwa tahun ini Ramadhan tidak ada menu sahur, beberapa orang khawatir dan bingung. Uniknya, bukan (kami) para pencari sahur yang resah, melainkan warga yang mau bersedekah. Mereka protes, mereka ingin menyediakan menu sahur. Setelah urun rembug, maka diputuskan ada menu sahur gratis lagi di masjid. Alhamdulillah, kami tersenyum.

Hanya saja, rejeki itu tidak tahu datangnya darimana. Kadang bisa datang, kadang ditunda. *merenungi tadi pagi tidak kebagian nasi, Alhamdulillah di kos ada nasi... :)


Amal kita, hanya untuk Allah…
Sedekah kita, sebagai rasa nikmat oksigen milyar liter yang telah kita hirup…

Kamis, Juli 26, 2012

Diantara Hati dan Syahid, berhenti...

Sejak awal Ramadhan, tak ubahnya masjid-masjid di kampung saya dulu, masjid Al Muhajirin di perumahan saya tinggal kini, juga menyediakan makan sahur. Saya memang berniat untuk menunaikan sahur saya di masjid, sekalian bisa ibadah yang lain atau sekedar tidur. Disamping itu, sahur menjadi kendala anak kos yang gag bisa masak. Sebab, hidup di daerah minim umat Islam membuat kita harus benar-benar jaga diri dengan makanan. Lha wong nyembelih saja tanpa basmalah bisa haram??

Ini sudah memasuki puasa hari keenam. Pun sudah enam hari saya langganan sahur di masjid. Malam itu saya baru bisa benar-benar terpejam dini hari.  Pikiran saya tak setenang minggu-minggu lalu, ditambah badan yang serasa sakit semua, membuat insomnia ini lengkap. Saya tidur dengan membaca syahadat. Saya menyakinkan hati, Allah Tuhanku, Nabi Muhammad Utusan-Nya. Saya baca perlahan, hingga saya ulang hingga yakin, sebanyak tiga kali. Setelah itu, saya baca doa tidur (meski lebih sering lupa). Malam ini saya pasrahkan diri dan nyawa saya kepada-Nya.

Sekitar jam 2 dini hari, listrik padam. Saya yang waktu terlelap tidak tahu. Cuman setelah terbangun, teman saya cerita, juga ada sms menanyakan listrik padam atau tidak. Saya masih terlelap hingga jam 3, persis setelah listrik baru hidup lagi. Dafit, teman sekontrakan, bangunin saya. Seperti biasa, dia ajak saya ke masjid.

Dini hari itu amat dingin memang, nggak seperti malam-malam sebelumnya. Ditambah tubuh yang baru beberapa jam mengistirahatkan diri. Ketika kami berdua sudah masuk ke lorong arah pintu samping masjid, kami tertegun. Banyak orang yang terbangun, berdiri di samping pintu masjid. Kami masih belum tau, apalagi saya yang masih setengah sadar dari tidur. Saya hanya heran, kenapa ada pot yang seperti dihantamkan pada tembok samping masjid. Hancur, tanah dan akar-akarnya terurai.

Jam menunjukkan pukul 3, namun masih sepi. Aneh, karena biasanya jam segini semua sudah makan sahur. Saya hanya terduduk, melihat semakin banyak orang yang berdatangan ke masjid. Namun saya tahu, mereka tidak datang untuk makan, tapi untuk berdiskusi sesuatu. Entah apa itu saya masih belum paham. Hingga saya dan dua teman diminta untuk mengambil lauk sahur oleh bapak-bapak bertubuh besar dengan rambut cepak.

Sepanjang jalan, bapak ini mulai bercerita. Beberapa jam yang lalu, ada sekitar delapan orang yang mabuk menyerang masjid. Tidak tahu motifnya menyerang masjid, juga beliau katakan tidak tahu dari kelompok apa mereka. Beliau katakan, diantara mereka yang menyerang masjid, beberapa membawa senjata tajam. Beliau sebutkan diantaranya, pedang, samurai, panah dan lainnya membawa pisau. Mereka tidak sempat masuk ke masjid, hanya mengacak-acak sekitar depan masjid, melempar pot ke arah pintu samping masjid. Terkadang, teriak-teriak nggak karuan, mengganggu dan membuat keributan di depan rumah penduduk di sekitar masjid. “Sudah sering terjadi seperti ini, apalagi kalau bulan puasa,” tuturnya. Sembari menghela nafas, beliau melanjutkan pembicaraan, “Tahun lalu juga seperti ini, hampir merusak masjid,”. Deg, seumur-umur saya baru menyaksikan di dekat kita konflik semacam ini. Hati ini berdesir, ternyata Ramadhan kali ini memberi warna berbeda.

Sampai di masjid, saya santap sahur dengan perlahan. Membalas satu sms sahur yang masuk. Sembari mengetik sms di hape, teman saya memberi informasi, “Tadi diamankan dua orang brimob, tiga orang polisi,” tuturnya diikuti anggukan kepala saya.

Bapak yang tadi mengajak saya mengambil sahur, berjalan menuju tempat cuci piring, dekat dengan tempat saya duduk. Ketika berpapasan, dia terhenti. 

“Hati-hati, apalagi kita muslim dan puasa seperti ini,” pesannya. Hati saya berdesir, teringat syahadat yang saya ucapkan berkali-kali semalam. Saya menimpali pesan bapak tadi dalam hati, “Saya siap syahid, bapak,”. Saya diam, menghela nafas. Tak sadar, berkaca-kaca mata saya, lantas tersenyum. Begitu indah perjuangan pendidikan disini, hingga kamipun siap syahid, Allah…

Tubuh ini milik-Mu
Jiwa ini pun milik-Mu
Jika Kau ingin mengambilnya, ijinkan aku kembali dalam khusnul khotimah…
Meski nurani ini sadar, tubuh dan jiwa ini telah banyak debu…
Ah, saya sungkan..

Minggu, April 22, 2012

arti nilai dan proses

seperti apa pentingnya proses?
dan seperti apa arti penting nilai akhir?

ketika ingin nilai tanpa melihat proses, yang terjadi adalah kecurangan.
ketika proses maksimal hasilnya NOL berujung kekecewaan.

menuntut llmu itu ingin nilai apa prosesnya?

bagaimana dengan kekhilafan? apa khilaf tidak bisa diperbaiki?

Anda pilih mana?

#maaf kawan2 blogger, maaf bu

Minggu, Maret 04, 2012

Nyalakan Lilin sebelum Mengutuk Kegelapan

Anak-anak adalah aset bangsa. Istilahnya kalau lagi mikirin akuntansi, anak-anak adalah aktiva negara ini. Maka, mereka berhak mendapatkan prioritas pendidikan, apapun itu bentuknya dan bagaimanapun caranya. 

Selama saya disini, saya mengamati pola tingkah laku anak-anak, terutama saat mereka bermain. Sebagian dari mereka lucu, namun tidak terarah. Sebagian besar orang tuanya tidak terlalu peduli dengan pola bermain anak-anak. "Yah, namanya juga anak kecil," ujung-ujungnya itu yang mereka ucapkan.

Pernah, saya berbincang-bincang dengan istri Pak Yahya, Bu Yahya namanya (hehe :D gag tau nama aslinya). Dalam obrolan singkat itu, saya sempat menanyakan kondisi pendidikan dan minat anak-anak belajar. Beliau berujar, anak-anak disini sedikit sekali yang memang berniat sekolah dengan serius.

"Banyak cara mendapatkan nilai bagus mas disini, terutama kalau sudah punya doi (uang)," ungkapnya prihatin. Itu berlaku untuk setingkat perguruan tinggi, sekolah menengah bahkan sekolah dasar pun juga ada praktik lobi nilai dengan uang seperti itu. Tenaga pengajar pun kurang memiliki rasa dedikasi mencerdaskan murid-muridnya. Etos kerja dinilai kurang, meskipun tidak bisa dipukul rata semua demikian. 

"Oh...." saya manggut-manggut, terenyuh, prihatin. Setengah menghela nafas panjang, saya bersyukur bisa lahir di Jawa, dengan kondisi kompetisi positif dalam berprestasi memang kental terasa. Sesaat, saya ingin menularkan semangat ke adik-adik kecil di lingkungan perumahan. Seperti Mas Huda dan kawan-kawan lain yang mencurahkan tenaga, pikiran serta materinya untuk adik-adik binaan di Taman Baca Kawan Kami di kompleks lokalisasi Dolly.

Mas Huda dan Dolly

Bisa dibilang, dia hafal seluk beluk lokalisasi Dolly. Ditanya tarif, bisa dia jelaskan. Saat teman-teman lain tersesat di daerah sana, dia bisa jadi petunjuk jalan. 

Dia juga bisa bicara dengan gamblang segala bentuk profesi di lokalisasi yang bertempat di daerah Putat Jaya Surabaya ini. Tapi dia bukan pelanggan, bukan "pekerja", rumahnya juga bukan di daerah "kotor" itu. Nur Huda, begitu nama lengkapnya, adalah aktivis sosial yang membina moral dan spiritual serta membimbing belajar anak-anak tak berdosa, yang terpaksa tumbuh di daerah lokalisasi. Daerah yang seharusnya tidak dijamahnya.  

Mas Huda, begitu saya menyapanya, dengan teman-teman lain Taman Baca Kawan Kami tiap hari Minggu mengunjungi adik-adik itu. Kisahnya di Taman Baca ini juga sudah dibukukan dan bukunya bisa didapat di Toko Buku Gramedia dengan judul "Permata dalam Lumpur" terbitan Quanta publishing.


Mas Huda juga redaktur saya di ITS Online. Kami cukup akrab, beberapa kali makan bareng, jalan berdua, menyusuri indahnya jalanan kota Surabaya. Nah loh? Untungnya, kami normal. Kalian tenang saja. Kita selalu menutup aurat dan menjaga pandangan kalau bertemu. (sayangnya, kita sama-sama dipanggil orang "mas". jadi gag bakal ada kejadian yang tidak "diinginkan, hehe)

Mas Huda dkk sudah merintis Taman Baca itu 3 tahun lebih. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk bergabung mengajar di Taman Baca (biasa kami sebut Kampus D :) ). Meski saya disana hanya kurang dari dua bulan, karena saya harus pindah domisili sementara dari Surabaya.

Pengalaman saya di Taman Baca Kawan Kami ini, membuahkan banyak kesan yang saya bisa petik.  Salah satunya, rasa syukur saya atas nikmat yang selama ini tidak saya sadari. 

Adik-adik di Dolly, sejak kecil sudah akrab dengan pekerja tuna susila, main dengan botol-botol bekas minuman keras, hidup di lingkungan penuh lelaki hidung belang menumpahkan cairan maninya. Meski ada yang memiliki orang tua yang seperti pada umumnya, namun banyak diantaranya hidup dengan orang tua sebagai pekerja tuna susila juga, pemabuk, mucikari, bahkan diantaranya punya ibu, tapi entah siapa ayahnya, 

Mereka sama dengan anak-anak daerah lain. Bersih, suci dan tidak tahu kondisi seperti apa di sekitar mereka. Mereka terpaksa tumbuh berkembang dekat sekali dengan prostitusi. 

Adik-adik itu sama dengan kita. Sama dengan saya, yang pernah kecil seperti mereka.
Kita (harusnya) punya hak yang sama... Tapi kenapa tidak?


Akhirnya....
Setelah lama di ujung utara pulau berbentuk huruf K ini, akhirnya pintu mimpi saya mulai terbuka. Kembali mengajar [lagi] setelah lama saya tinggalkan Probolinggo, kota kelahiran dan Surabaya, khususnya Kampus D[olly] di Taman Baca. Saya bersama kawan-kawan saya berkesempatan ngajar anak-anak seumur 3-12 tahun di Taman Belajar di Masjid perumahan tempat saya tinggal saat ini. 

Sebenarnya, Taman Belajar ini sudah ada sebelum saya menginjakkan kaki di kota ini. Namanya Tazkir Anak-anak. Kegiatan ini dulu dibuat atas dasar banyaknya anak-anak muslim yang ikut ke dalam sekolah minggu besutan kaum Nasrani. Untuk menyelamatkan aqidah anak-anak muslim, maka dibentuklah badan tazkir anak-anak dibawah asuhan seorang ustadzah *aduh maaf lupa namanya hehe... Kegiatannya mempelajari agama dari dini, thaharah, nyanyian Islami, tilawah Qur'an beserta terjemahnya, serta cerita-cerita Islami pembangkit keceriaan yang dibawakan pengasuh. Namun, kesibukan sang ustadzah di luar membuat agenda kegiatan ini berkurang, meski demikian anak-anak pun semangat datang tiap minggu pagi di Masjid.

Alhamdulillah, gayung bersambut ketika program kerja BEM STAN  2011-2012 terbentuk, saya diajak beberapa pengurus bidang Pengabdian Masyarakat untuk mengisi materi. "Mantap," ujar saya dalam hati. Saya yang saat itu sedang kerja bakti di masjid, diminta untuk segera membersihkan diri dan mengikuti agenda tazkir. 

Pertemuan pertama, tidak banyak yang kami lakukan. Kami? Ya saat itu kami datang bertiga, bersama Alex (kordiv pengmas) dan Hamid (Kadept Humas). Kami dan adik-adik berjilbab dan berpeci ini berkenalan dengan cara unik dan mengejutkan. Bernyanyi, bertepuk tangan, menggeleng kepala, lalu sebut nama satu persatu. 

Ah, biar aja... kita kan harus tahu anak-anak itu bagaimana, baru kita bisa dengan nyaman bisa mengajar. Bagian dari proses, hiburku.

Sampai pada inti acara, kami diminta ustadzah untuk bercerita. Jleb! Alex dan Hamid langsung memandang tajam ke arahku. Uh, gag papa sih aku yang cerita, tapi mau cerita apa? Bagi saya, agenda ini ndadak, eh malah disuruh cerita. Waktu itu, yang terpikir masak di depan adik-adik kita menolak dan bilang "Gag bisa, ustadzah".  Bukan malu, tapi bahaya juga jika budaya "ndak bisa, ndak mau" ditirukan adik-adik. Saya akhirnya mengangguk mantap, mengiyakan.

Cerita dari saya, mengenai cita-cita. Saya tidak mau ambil pusing mau ngarang cerita seperti apa. Ambil saja inspirasi cerita dari adik-adik. Kutanya,"Cita-cita kalian apa?". "Dokter kak," ujar Yoyok yang duduk di sebelah kananku. "Oke, Ada lagi?,". "Dokter kak," ungkap Nanda yang saat itu berkerudung biru. Setelah itu, bersahut-sahutan ingin jadi dokter. Yak, saudara-saudara. berarti saya bercerita tentang kedokteran dikaitkan Islam. Alhasil, kemudahan didapat. Saya  menerangkan fungsi air wudhu dari segi medis. Mereka tampak larut cerita saya. Bahkan usai cerita, Salah seorang adik di baris perempuan berkata "Kalau gitu, saya gag boleh lupa shalat biar sehat," ujarnya polos. Alhamdulillah..

besok, saya mau cerita apa lagi?




yuk mari kawan, selagi ada kesempatan yuk mengajar...


*ditulis sembari muhasabbah 
maaf karena sudah lama gag nulis, jadi kaku nulis... 

Jumat, Maret 02, 2012

Ujian, Tradisi Penentu Intelektualitas


Kuliah merupakan pilihan utama siswa usai menamatkan belajar di bangku SMA. Ada banyak pilhan untuk kuliah. Ingin studi di universitas swasta, universitas negeri maupun sekolah tinggi kedianasan. Penawarannya, jika memilih kuliah di swasta, konsekuensi yang Anda pikul tentu soal biaya dan akreditasi. Jika pilihan jatuh di perguruan tinggi negeri, beban kuliah sebagian besar mendapat subsidi dari negara. Namun jika pilihan Anda masuk sekolah tinggi kedinasan, Anda diberi fasilitas kuliah gratis, lulus langsung bekerja. Apakah masih ada yang demikian? STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) adalah salah satu pilihannya.
Menempuh perkuliahan di sekolah dinas dibawah naungan kementrian keuangan ini memang berbeda dengan system perkuliahan di universitas/pendidikan tinggi lain./ jika mahasiswa lain memiliki kebebasan memilih jumlah kredit semester, terkadang dosen maupun jam kuliah bisa memilih sesuka hati, tidak dengan mahasiswa STAN. Semua di STAN sudah diatur oleh system. Mahasiswa-mahasiswa STAN tinggal menerima dan menjalani.
Salah satu system yang unik di pendidikan STAN, juga tidak berbeda di tempat lain adalah tolok ukur ketercapaian materi kuliah dan pembobotan jenis ujian. Rata-rata, system pendidikan di Indonesia memiliki tolok ukur pencapaian prestasi di penghujung masa pendidikannya. UNas, UTS maupun UAS adalah penentu akhir selama pendidikan. STAN juga demikian, 80 % dari 100% nilai per semester merupakan hasil UTS dan UAS, masing-masing 40%. Alhasil, 2 waktu itu menjadi ‘even’ besar bagi mahasiswa STAN untuk memperjuangkan nilai yang terbaik. Acapkali, juga menjadi momok yang terkadang memaksa mereka untuk berkali-kali menyeduh kopi untuk menemani begadang belajar ujian.
Dua even itu pula pun menjadi keramat. Banyak pantangan-pantangan yang harus dihindari agara UTS dan UAS lancer. Beberapa diantaranya makan sambal di pagi hari, tidur terlalu malam, begadang dan hal lain yang bisa menghambat konsentrasi saat mengerjakan ujian keesokan harinya. Andai saja halangan tersebut terjadi, maka 80% nilai mahasiswa akan terancam. Ritual lain biasanya meningkatkan rutinitas ibadah-ibadah sebagai siraman ruhani mereka.
Sebesar 20% yang lain, merupakan penilaian aktivitas kelas dan tugas-tugas sehari-hari. Ironi memang, mahasiswa masuk tiap hari kuliah hingga 16 kali pertemuan, hanya menempati bobot 20 % nilai. Sedangkan dua hari ujian (UTS dan UAS) akan mempertaruhkan perjuangan kita.
Fakta lain, jika kita mengamati soal-soal ujian, ada beberapa jenis soal. Pertama, pilihan ganda, ada pula tipe soal menilai suatu pernyataan benar atau salah, serta tipe soal esai. Prosentase penilaiannya memang lebih besar essay, namun itupun tidak lebih dari angka 40%. Namun sebenarnya, dengan essai pemahaman kita dituntut baik.
Beda halnya dengan dua tipe jenis sebelumnya, pilihan ganda maupun pilihan benar salah. Bagi yang paham, hal itu tidak jadi masalah. Meskipun terkadang apabila ketika konsentrasi siswa tersebut terganggu, ada kemungkinan menyilang/memilih jawaban yang tidak tepat. Namun bagi yang tidak memahami, soal tipe ini bagaikan tipe soal probabilitas. Kalau beruntung, dia benar, kalau salah mujur tidak didapatnya. Rangkaian soal-soal ini sangat berpengaruh terhadap keluarnya nilai seseorang mahasiswa di akhir semester.
Personalan demikian bukan hanya terjadi di kalangan mahasiswa saja. Sejak usia dini, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) pula ada Ujian Nasional. Ujian ini juga penentu akhir lulus tidaknya seorang siswa, meskipun dirinya meraih prestasi di bangku kuliah, namun karena factor ‘X’, dia bisa saja gagal menjawab baik. Meskipun saat ini system ini sudah diperbaiki, namun masih memiliki proporsi yang besar dalam penentu intelektual seseorang.
Menyikapi hal ini, bukan saatnya kita menyalahkan system yang ada. Hanya saja, kita perlu persiapan yang jauh lebih matang untuk menghadapi UTS dan UAS maupun Ujian Nasional bagi yang masih di bangku sekolah. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus mempersiapkan segala ujian jauh-jauh hari. Kemungkinan factor ‘X’ meskipun ada, namun peluangnya kecil. Kita berharap, semua akan berjalan dengan lancar hingga mendapatkan nilai sebaik-baiknya.

ditulis karena sedang terbakar hasil UTS ^^ semoga bisa istiqomah meningkat 
Ada kesalahan di dalam gadget ini

jagoBlog.com