Selasa, Juli 31, 2012

Beda Rakaat namun Satu Nafas

Perbedaan kadangkala menyulut pertikaian, apalagi kalau sudah menyinggung unsur SARA. Namun, perbedaan kadang bisa jadi indah.

Manado memang muslimnya minoritas. Masjid juga jumlahnya sangat terbatas, jauh lebih banyak gereja. Itu juga susahnya kalau bepergian di Manado. Masjid jarang, kita shalat lima waktu. Apa shalat di gereja aja? Hehe… Pertanyaan retoris kawan saya..

Di Perumahan Paniki Dua, tempat saya tinggal,  hanya ada satu masjid. Al Muhajirin, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Jamaah di masjid ini sangat bermacam-macam warna. Ada yang sudah fasih Al Qur’an dan Hadist, ada yang tekun beribadah, hingga ada yang memang masih dalam taraf mualaf. Pun, Imam (perawi hadist) yang dianut juga bermacam-macam, campur jadi satu masjid.

Biasanya kalau di Jawa, yang kita bisa temui masjid hanya berjarak 1-5 km saja, bakal punya satu pakem di masjid itu. Misalkan, masjid A meyakini hadist X, masjid B yakin hadist C. Sehingga, jamaah tinggal memilih masjid mana yang sesuai dengan keyakinannya dalam beribadah. Kalau di Manado?

Ini terjadi dan bisa terbukti saat terawih kemarin. Sudah umum kalau ada umat muslim memakai 8 rakaat tarawih, ada juga yang 20 rakaat. Masjid Al Muhajirin mengambil jalan tengah untuk menampung semua jamaah, yakni memakai 20 rakaat, dengan kesepakatan yang meyakini 8 rakaat saja dipersilakan untuk menunggu shalat witir. Alhasil, saya sempat shock. Hampir sepertiga isi masjid berhamburan keluar setelah rakaat kedelapan tarawih dilakukan. Riuh, ramai. Mulai dari shaf depan sendiri, hingga belakang ada yang “undur diri” setelah rakaat delapan. Jamaah perempuan juga seperti itu.

Meski demikian, saya pikir itulah yang menyatukan kita. Tetap dengan panji-panji Islam, kita selalu merangkul perbedaan dibalut kebersamaan. Puasa Jum’at, puasa Sabtu tetap jadi satu dalam nafas Islam. 
Kalau Anda puasa Minggu, jadi hutang satu. :) 

Hanya saja, kadang saya tidak habis pikir. Di masjid ini, kadang shalat bisa dilewati orang. Meski berulang kali tangan saya julurkan untuk menghalau yang lewat di depan saya yang sedang shalat, tapi selalu berulang. Ada juga, di dekat mimbar khutbah, ditumpuk beberapa Al Qur’an, dan anehnya di bagian atas ada kotak tisu. Sempat ada mas Kukuh, pegawai BDK ngetweet saya, “Al Qur’an dan kotak tisu lebih berharga mana?”.

Tak jarang kita, anak-anak yang sering adzan tanpa memakai kopyah (songkok), kena marah satu orang imam yang menurut saya salah tafsir. Kata beliau, untuk adzan disini harus pakai songkok, “Begitu memang aturannya, beda daerah beda adat,” tegasnya. Ehem, maaf pak, Islam bukan adat istiadat…

Ya begitulah perbedaan… Yuk mari disikapi dewasa ^^

Sabtu, Juli 28, 2012

Sahur oh sahur...

Kata iklan di tipi-tipi, atau sering didengar dalam ceramah, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Saya juga merasakan demikian, meski itu bukan sugesti dari iklan tipi. :P

Pasalnya begini, saya merasa apa yang masuk ke dalam mulut, berlanjut ke perut, sangat berbobot dibandingkan hari-hari bukan bulan Ramadhan. Belum lagi soal pengeluaran uang yang bisa diirit.  Mungkin ini yang dikatakan orang berkah. Pun dikatakan saya, hehe…

Berbobot : 
artinya sarat gizi. Sebagai anak kos, yang juga notabenenya tinggal di daerah yang kebutuhan hidupnya tinggi dan mahal-mahal, bisa makan rutin itu sudah luar biasa. Tiap hari makan sayur, tahu, tempe, kalau sarapan gorengan kering, kalau malam seiris ikan kecil, itu sudah berkah luar biasa. Alhamdulillah, saya masih memakan masakan yang halal. :)

Namun, semenjak di masjid Perumahan menyelenggarakan menu sahur gratis, semuanya terasa istimewa. Jangan dulu memikirkan lauknya apa. Gratis aja bisa jadi kabar yang paling menggembirakan rakyat kos-kosan. Apalagi kalau tahu lauknya. Ikan utuh, telur rebus bumbu merah utuh, mie “Menjangan”, aneka sayur, plus nasi dan kerupuk. Itupun kadang melimpah ruah. Belum lagi jatah bulanan dengan menu ‘konsisten’-tahu-tempe, sayur, seiris ikan- yang biasanya kami ambil siang dan malam, dijadikan satu saat berbuka puasa. Subhanallah…

Akhir-akhir ini nafsu makan saya menurun drastis perkara beberapa sebab, membuat saya kurang nafsu makan nasi, namun mengambil lauk lebih banyak. Makin berbobot dibandingkan biasanya, nasi menggunung, lauk sejumput.. hehe…

Irit :
Selama ini, urusan makan kami mengeluarkan uang untuk katering bulanan, membeli beras dan membeli gorengan untuk sarapan. Adanya puasa, kami bisa mengirit beberapa sektor. Beras, tentu bisa mengirit jika delapan penghuni kontrakan sahur di masjid juga, yang biasa nanak beras tiga kali jadi dua kali bahkan sekali. Untuk sarapan, sudah tentu kami tidak mau serta merta membatalkan puasa dengan sarapan. Pengeluaran yang lain bisa diirit dari sektor jajan di kampus, pasti tentu nggak kami lakukan. 

Usut punya usut, soal sedekah makanan, muslim di Manado yang notabenenya orang yang nggak ragu soal mengeluarkan uang, juga nggak ragu soal sedekah. Begitu pula sedekah makanan. 

Saat pertama kali diumumkan bahwa tahun ini Ramadhan tidak ada menu sahur, beberapa orang khawatir dan bingung. Uniknya, bukan (kami) para pencari sahur yang resah, melainkan warga yang mau bersedekah. Mereka protes, mereka ingin menyediakan menu sahur. Setelah urun rembug, maka diputuskan ada menu sahur gratis lagi di masjid. Alhamdulillah, kami tersenyum.

Hanya saja, rejeki itu tidak tahu datangnya darimana. Kadang bisa datang, kadang ditunda. *merenungi tadi pagi tidak kebagian nasi, Alhamdulillah di kos ada nasi... :)


Amal kita, hanya untuk Allah…
Sedekah kita, sebagai rasa nikmat oksigen milyar liter yang telah kita hirup…

Kamis, Juli 26, 2012

Diantara Hati dan Syahid, berhenti...

Sejak awal Ramadhan, tak ubahnya masjid-masjid di kampung saya dulu, masjid Al Muhajirin di perumahan saya tinggal kini, juga menyediakan makan sahur. Saya memang berniat untuk menunaikan sahur saya di masjid, sekalian bisa ibadah yang lain atau sekedar tidur. Disamping itu, sahur menjadi kendala anak kos yang gag bisa masak. Sebab, hidup di daerah minim umat Islam membuat kita harus benar-benar jaga diri dengan makanan. Lha wong nyembelih saja tanpa basmalah bisa haram??

Ini sudah memasuki puasa hari keenam. Pun sudah enam hari saya langganan sahur di masjid. Malam itu saya baru bisa benar-benar terpejam dini hari.  Pikiran saya tak setenang minggu-minggu lalu, ditambah badan yang serasa sakit semua, membuat insomnia ini lengkap. Saya tidur dengan membaca syahadat. Saya menyakinkan hati, Allah Tuhanku, Nabi Muhammad Utusan-Nya. Saya baca perlahan, hingga saya ulang hingga yakin, sebanyak tiga kali. Setelah itu, saya baca doa tidur (meski lebih sering lupa). Malam ini saya pasrahkan diri dan nyawa saya kepada-Nya.

Sekitar jam 2 dini hari, listrik padam. Saya yang waktu terlelap tidak tahu. Cuman setelah terbangun, teman saya cerita, juga ada sms menanyakan listrik padam atau tidak. Saya masih terlelap hingga jam 3, persis setelah listrik baru hidup lagi. Dafit, teman sekontrakan, bangunin saya. Seperti biasa, dia ajak saya ke masjid.

Dini hari itu amat dingin memang, nggak seperti malam-malam sebelumnya. Ditambah tubuh yang baru beberapa jam mengistirahatkan diri. Ketika kami berdua sudah masuk ke lorong arah pintu samping masjid, kami tertegun. Banyak orang yang terbangun, berdiri di samping pintu masjid. Kami masih belum tau, apalagi saya yang masih setengah sadar dari tidur. Saya hanya heran, kenapa ada pot yang seperti dihantamkan pada tembok samping masjid. Hancur, tanah dan akar-akarnya terurai.

Jam menunjukkan pukul 3, namun masih sepi. Aneh, karena biasanya jam segini semua sudah makan sahur. Saya hanya terduduk, melihat semakin banyak orang yang berdatangan ke masjid. Namun saya tahu, mereka tidak datang untuk makan, tapi untuk berdiskusi sesuatu. Entah apa itu saya masih belum paham. Hingga saya dan dua teman diminta untuk mengambil lauk sahur oleh bapak-bapak bertubuh besar dengan rambut cepak.

Sepanjang jalan, bapak ini mulai bercerita. Beberapa jam yang lalu, ada sekitar delapan orang yang mabuk menyerang masjid. Tidak tahu motifnya menyerang masjid, juga beliau katakan tidak tahu dari kelompok apa mereka. Beliau katakan, diantara mereka yang menyerang masjid, beberapa membawa senjata tajam. Beliau sebutkan diantaranya, pedang, samurai, panah dan lainnya membawa pisau. Mereka tidak sempat masuk ke masjid, hanya mengacak-acak sekitar depan masjid, melempar pot ke arah pintu samping masjid. Terkadang, teriak-teriak nggak karuan, mengganggu dan membuat keributan di depan rumah penduduk di sekitar masjid. “Sudah sering terjadi seperti ini, apalagi kalau bulan puasa,” tuturnya. Sembari menghela nafas, beliau melanjutkan pembicaraan, “Tahun lalu juga seperti ini, hampir merusak masjid,”. Deg, seumur-umur saya baru menyaksikan di dekat kita konflik semacam ini. Hati ini berdesir, ternyata Ramadhan kali ini memberi warna berbeda.

Sampai di masjid, saya santap sahur dengan perlahan. Membalas satu sms sahur yang masuk. Sembari mengetik sms di hape, teman saya memberi informasi, “Tadi diamankan dua orang brimob, tiga orang polisi,” tuturnya diikuti anggukan kepala saya.

Bapak yang tadi mengajak saya mengambil sahur, berjalan menuju tempat cuci piring, dekat dengan tempat saya duduk. Ketika berpapasan, dia terhenti. 

“Hati-hati, apalagi kita muslim dan puasa seperti ini,” pesannya. Hati saya berdesir, teringat syahadat yang saya ucapkan berkali-kali semalam. Saya menimpali pesan bapak tadi dalam hati, “Saya siap syahid, bapak,”. Saya diam, menghela nafas. Tak sadar, berkaca-kaca mata saya, lantas tersenyum. Begitu indah perjuangan pendidikan disini, hingga kamipun siap syahid, Allah…

Tubuh ini milik-Mu
Jiwa ini pun milik-Mu
Jika Kau ingin mengambilnya, ijinkan aku kembali dalam khusnul khotimah…
Meski nurani ini sadar, tubuh dan jiwa ini telah banyak debu…
Ah, saya sungkan..

Ada kesalahan di dalam gadget ini

jagoBlog.com