Senin, Oktober 31, 2011

Happy UTS :)

Selamat menempuh UTS teman-teman
Sukses dan jujur ya!

sedikit hiburan penghilang penat :D




[nama] Ibu

Saya kagum dengan sosok ini. Dulu saya dalam rahimnya kurang lebih sembilan bulan. Meski kata Ibu, saya termasuk anak 'nakal' ingin keluar melihat dunia duluan. "Biar sehat," alasan Ibu. 

***
Bermula dari sudah lama tidak transaksi menggunakan kartu ATM, saya lupa nomer PIN ATM. Mampus!. padahal cuman 4 digit saja. Ya manusia memang memiliki jangka memori yang sangat istimewa :D *ngales

Akhirnya setelah sukses saya lupa 4 digit pin ATM saya sebanyak 3 kali, kulajukan motor ke kantor cabang bank saya menabung.


"Selamat siang, Pak" sapa mbak CS bank ini. (dalam hati, "Maaf mbak, saya masih muda, ini jenggot dan kumis palsu kok")
Terjadilah dialog perihal keluhan saya dan anggukan paham si mbak ini.

"Maaf Pak bisa dibantu jawab, nama Ibu siapa?" uji mbak seragam biru ini. Dengan enteng kujawab.
Setelah itu, ku kira mau tanya nama bapak juga, eh ternyata "Nomer telepon rumah, Pak?"
Saya ingat, awal registrasi nasabah dulu yang ditanya juga nama ibu. Belum tahu kenapa, tapi inilah keistimewaan ibu.

Tiba-tiba, teringat perjuangannya mengantar saya bolak-balik Malang untuk tes. Saya sudah lama tersadar, saya belum pernah bisa membuatnya tersenyum. Malah mengiris berulang kali. 
Ingin, membuatnya tetap tersenyum. Senyum seperti saat mengurus ribetnya pendaftaran, pengumuman lolos, seleksi, lolos dan seleksi lagi. 
Entah kenapa, jangan juga ditanyakan, kenapa ibu sosok yang istimewa.

*Ingatkah juga nggak ada hari Bapak?

Kamis, Oktober 27, 2011

Tes

Saya dapat kutipan bagus dari mbak Tyas, ibu negara sekred ITS Online. 

"Semakin dekat cita-cita kita terwujud, akan semakin berat penderitaan yang harus kita alami "(Jenderal Soedirman)

Iya, mbak Tyas juga mengutip kalimat inspiratif Jenderal RI, Soedirman. (kakek saya, Soedirman juga namanya, seorang pejuang juga, panggilannya Pak Dirman).

Sempat diskusi juga dengan mbak Tyas. kurang lebih begini. Apa takdir itu juga suatu cita-cita? jika iya, kenapa kita juga terkadang tidak merasakan pedihnya mendapat takdir? Terkesan seolah-olah kita rela menerima, bukan suatu yang diperjuangkan.

Jujur saja, saya beberapa kali bercita-cita, dan makin berat. Akhirnya ku akui, yang kuperjuangkan takdir.

Jumat, Oktober 14, 2011

SR

SR itu Sekolah Rakyat. Setingkat sekolah dasar pada jaman bapak saya sekolah dulu.

Sekolah rakyat juga ada di kelurahan Kenjeran Sukolilo di daerah pesisir pantai Kenjeran. Sekolah itu buka tiap Rabu, pukul 19.00 hingga 21.00. Tapi, ini bukan sekolah formal seperti bapak saya sekolah dulu. Ini semacam program pengabdian masyarakat yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ITS Maritime Challenge (MC) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Telekomunikasi (Himatelkom).

Bentuk kegiatannya, ya mengajar adik-adik sekolah dasar dalam hal pengerjaan tugas-tugas, pembimbingan materi pelajaran, belajar intensif, kadang juga main-main. Tujuan "sekolah" ini memang untuk membantu siswa SD daerah pesisir yang sebagian besar anak nelayan ini dalam memahami pelajaran yang didapat di sekolah secara umum. 

Nah, kebetulan saya kebagian liputan ini. (pokoknya liputan ndadak-ndadak sayalah korban penganiayaan mas Huda). Saya sebenarnya suka liputan di luar lingkungan ITS, yang gag suka kesasar. Haha...
Tapi enaknya, si korlip galau ini mau nemani saya liputan. Akhirnya, kami berdua meluncur ke TKP sekitar jam 7 malam. 
Lha, meski sudah sama mas Huda, juga dipandu salah satu anggota UKM ITS MC, tetap berjudul, "kesasar". Keliru, balai Kelurahan Sukolilo terbaca kelurahan Kenjeran. Ya alhasil, kami kesasar jauh pek dari lokasi. 

Sampai di lokasi, kami langsung berbaur. Sambil melakukan pedekate ke adik-adik saya juga wawancara pengajarnya. Beberapa saat kemudian, saya dan pengajar dari PENS itu terlibat perbincangan serius. Saya memaparkan kondisi pengajaran di daerah prostitusi nomer wahid, Dolly. Dari sini, kami saling bertukarpikiran. 
Hal ini juga dilakukan mas Huda. Tanya kurikulum pengajaran, respon masyarakat dan animo adik-adik.
Sebagian besar sama saja, sama-sama terkendala jika ada anak yang bandel :)

Setelah dirasa cukup ngobrol, saya dan mas Huda mengambil beberapa gambar. 
Coba diliat gambarnya, apa menarik? (Photos by Nur Huda)

Parkir ?

Mari belajar sms :D

atraksi memasukkan jari ke dalam kipas :)

Yamato

Playing "Marilah Kemari"

Yamato.
Kira-kira ingat nggak peristiwa kreatif arek Suroboyo, perobekan bagian warna biru bendera Belanda - merah, putih, biru - menjadi Merah Putih, bendera Indonesia. Dari sekian banyak cerita sejarah, kisah di hotel Yamato ini meninggalkan kesan mendalam. Kreatif, berani dan tampil kuat sebagai karakter bangsa kala itu. Ya, kala itu 18 September 1945. 

Majapahit.
Kini, hotel yang bertempat di Jalan Tunjungan no 6, jantung kota Surabaya. Sekarang bernama Hotel Majapahit. Saat insiden perobekan bendera Belanda, namanya Hotel Yamato (dalam bahasa Jepang : Hoteru Yamato). Sebelumnya dinamakan Hotel Oranje. Hotel ini merupakan hotel bersejarah yang hingga kini masih tetap sebagai sebuah hotel dan berkembang menjadi hotel bintang lima dengan dua lantai.


Hotel Majapahit (Yamato) pada 1911 (ilustrasi dari id.wikipedia.org)


Kondisi Hotel Majapahit nan eksotis kini (ilustrasi dari alvitoo.wordpress.com)


Beberapa saat lalu, koordinator liputan ITS Online, mas Nur Huda meminta saya untuk berangkat liputan ke Hotel Majapahit. Awalnya, berat sekali niat saya untuk berangkat kesana. Alasannya, malas, panas, jauh dan rentan kesasar. Tapi sisi manusiawi saya muncul, merasa kasihan kepada mas Huda kalau ada berita yang lepas lagi.


Tapi mendadak saya bersemangat. Baru ingat kalau Hotel Majapahit itu dulunya Hotel Yamato. Langsung saya cek di internet dan cari tahu informasi hotelnya (bukan acaranya, hehe). Dan tiba-tiba sangat tertarik untuk kesana. Terlebih, semenjak SMA usai Lawatan Sejarah Nasional, saya mulai tertarik dengan bangunan-bangunan bernilai sejarah. Saya mengiyakan.


Awalnya, mau dibarengi mas Huda. Karena dirinya galau, saya menghubungi mbak Upik, katanya kemarin ngebet kepingin kesana. Untunglah mbak Upik mau, jadi saya ada partner. Partner ngobrol biar gag garing, penunjuk jalan :D dan partner wawancara.


Arsitektur bagian luar hotel Majapahit tidak banyak berubah dari bentuk hotel Yamato secara besar. Namun desain dan artistik ruang dalam sudah dimodernisasi. Di ruang depan, terpampang lukisan besar peristiwa perobekan bendera Belanda. Beberapa foto-foto jadul juga dipajang di sepanjang lorong-lorong ruang hotel.


Beberapa sempat kami abadikan perjalanan kami di Hotel Majapahit Surabaya.
(Photos by : Muflih Fathoniawan & Lutfia)


Ngeprint Google Map biar gag kesasar  :D


Salah satu room panel seminar


Santai baca koran, seperti rumah (sendiri)  :D


Front Office hotel dengan latar foto Hotel Oranje


Foto jadul beberapa spot di kota Surabaya diamati penulis


 akhirnya, ketemu juga saudara kembar saya :D


 Suasana nampak hijau nan asri


Pucuk hotel, tempat insiden perobekan bendera Belanda 


 
Saat peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi Merah Putih Indonesia


Salah satu kamar hotel


Diantara bangunan megah


Usai mengitari hotel, mbak Upik mengeluarkan statement, hotel Majapahit biasa saja tidak seperti yang ada di benaknya. Kalau di benak saya, ini sudah lebih dari cukup :)


Salah satu yang saya kagumi, hotel ini meski beberapa ruang mengalami modernisasi bangunan, tapi mereka tetap mempertahankan nilai historis sebagai jati diri hotel Yamato. Interior ruangan memang didesain senyaman mungkin dan modern. Namun, beberapa tempat memang terlihat seperti bangunan yang tua, lapisan dinding juga masih asli. Hanya di beberapa tempat, banyak cat yang mengelupas. 


Tapi jauh dari itu, saya cukup senang mendapat pengalaman jalan-jalan ke Hotel Majapahit ini. Sayangnya, saya gag bisa naik ke atas untuk mengibarkan bendera setinggi-tingginya. :D

Sebagai tambahan dan penutup tulisan, saya mendapatkan video yang menggambarkan suasana pada saat Surabaya diserang oleh tentara Inggris. Video selanjutnya, terdapat pidato Bung Tomo  yang disiarkan terus menerus melalui radio untuk membakar semangat arek-arek Suroboyo.

 kondisi pertempuran kala itu
 
 Isi pidato Bung Tomo
Ada kesalahan di dalam gadget ini

jagoBlog.com