Tampilkan postingan dengan label FROM mE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FROM mE. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 07, 2012

Gagasan

Iseng-iseng, nyoba-nyoba. Selama tiga hari, tiga artikel gagasan saya kirim ke Jawa Pos berturut-turut.
Alhamdulillah, hari keempat nongol salah satu gagasan saya..

Jawa Pos, Jumat 7/12/2012 Halaman 4 Kolom Gagasan

*maaf gambarnya amburadul gara2 koneksi upload super mini. klik gambar kalau pingin memperbesar

Alhamdulillah di Jawa Pos sudah pernah mejeng nama ane.. minimal penikmat Jawa Pos dengan ratus ribuan ekslempar per harinya, pernah tahu nama saya :)
Selanjutnya Opini, selanjutnya masuk Kompas. buku, buku, buku buku....

Kamis, Desember 23, 2010

Surat Untuk Ibu


Kasih sayangnya kan terus terurai...
Perhatiannya kepada kita menjadi segalanya...
Luka kita kan menjadi resahnya...
Meski kita jarang memberi tulus kasih sayang, perhatian kepadanya...
Kepada makhluk paling mulia sepanjang hayat, Ibu...


Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi seragam berdiri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang


Selamat pagi Ibu.
Harusnya pagi ini aku bisa melihat wajahmu. Seperti dahulu, saat aku susah bangun pagi, engkau yang setia keluar masuk kamarku yang berantakan itu, semua engkau lakukan agar anakmu ini tidak lalai menunaikan shalat. Tapi sungguh aku yang tak mengerti engkau, seringkali aku bersembunyi di balik hangatnya selimutku, menutup telinga dari suara surga darimu.

Ibu, seharusnya hari ini aku mencium tanganmu, tangan suci dengan jemari halus yang membelaiku mulai dalam kandungan hingga kini saat keberangkatanku ke kota besar ini. Aku ingat, kau tak pernah peduli jemarimu berkali-kali teriris tajamnya pisau, hanya untuk membuat sarapan untukku. Harusnya, hari ini aku bisa tersenyum manis untukmu...

Ibu, kini aku tak lagi selalu bisa melihat bias surga wajahmu, tak bisa lagi mendengar nasihatmu, dan senyuman manismu. Melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri sesuai anganmu, membuat aku dan engkau Bu, terpisah. Apalagi di kampus perjuangan ITS, sedikit sekali kesempatan untuk menjumpaimu di kampung halaman. Tapi, hikmahnya aku makin merasakan hadirmu kini amat berarti.

Ah, kesendirian di kamar kos ini, membuka ingatan-ingatanku tentang istimewanya aku di hadapanmu.

****
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darimu
Tangisan nakal bibirku
Tak ‘kan jadi deritamu


Empat belas tahun lalu, sehari sebelum pertama aku masuk taman kanak-kanak, atau TK. Hemmm.. betapa bahagia membayangkan bangku-bangku sekolah esok hari, memakai baju seragam, bersepatu, menenteng tas kecil penuh warna. Begitu bangganya aku memamerkannya pada teman-teman sepermainan. Ibuku tersenyum melihatku senang, meski aku melihat ibu kelelahan.

Sejak pagi, beliau sibuk dengan urusannya. Aku tak tahu. Yang kutahu, di tempat tidurku yang mungil, tertata rapi satu stel seragam dan rompi TK, sepatu, tas dan buku gambar kecil. Semuanya masih baru.

Aku tetap tidak tahu semua itu asalnya darimana. Ibu hanya berujar "Kamu cepat tidur, besok sekolah harus bangun pagi,". Senyumnya mengembang, mencium keningku.

Sejak pagi itu, ibu selalu bangun lebih pagi. Sejak hari itu, kesibukan ibu bertambah. Penatnya mengajar di sebuah sekolah dasar, tak pernah menampik saat aku ingin bercerita tentang sekolah, tentang dijahili teman-teman atau dengan raga yang lelah, ibu selalu memenuhi kebutuhan sekolah yang aku minta. Ya, sejak pagi itu, bahkan hingga aku tamatkan sekolahku di SMA. Ibu selalu ada untukku, tapi aku tak pernah ada untuk dirinya. Saat engkau butuh sesuatu, kadang aku mendewakan televisi atau mainanku. Saat engkau  terbaring sakit, aku tak memperhatikanmu, alasannya sibuk sekolah. Sungguh, tak sedikitpun rasa sayangmu berkurang pada diriku. Cuma aku selalu mengurangi rasa sayangku saat engkau tak kabulkan permintaanku.

Ah, teganya.

****
Tangan halus dan suci
Telah menangkap tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan


Kini, kuliah adalah sebuah tantangan kemandirian mengatasi problematik, tak hanya diri sendiri, juga yang menimpa bangsa negara. Ibuku kini bukan lagi sebagai penyedia kebutuhan anaknya yang telah menjadi mahasiswa.  Ibu, bagi seorang mahasiswa sepertiku adalah penyemangat jiwa saat tugas kuliah makin menumpuk, penyejuk hati jika banyak masalah yang menghampiri serta sebagai jalan menuju surga Tuhan, yang selalu diucap namanya saat kita memanjatkan doa. Jarak ibu dan aku kini yang jauh, makin mempertebal rasa sayang dan rinduku, yang belum pernah kurasakan.

Sungguh, sebenarnya Tuhan telah menitipkan surga-Nya kepada engkau, ibu...
Semoga hari esok, sisa nyawaku bisa menemuimu Bu, mencium tanganmu...
Mengucap tak pernah kuucap sebelumnya di hari istimewa ini,
Selamat harimu, ibu...
Aku amat mencintaimu. Seandainya diri ini bisa mencintai lebih dari cintamu kepadaku, aku ingin. Tapi aku tak pernah sanggup.

Untuk ibuku dan ibu-ibu yang lain, yang kubanggakan. Selamat hari Ibu.
Hanya sepucuk surat ini yang dapat kuberi, semoga dapat membuatmu tersenyum.
tulisan serupa bisa dijumpai di website kampus saya, http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=7829

Selasa, Desember 21, 2010

Bangun tidur di Lantai 7 Perpus ITS

Assalamualaikum..
 
Alhamdulillah, hari ini ruh ku kembali tepat waktu dan kuliah juga gag moloorr... ^_^
haha, Kalkulus menyambuttkuuu....

Mempersiapkan kepenatan yang akan kuhadapi (degg deg.. deg. degg...), aku tanya mas Iman, reporter di ITS online yang kebetulan bangun (lebih) pagi. "Naik ke lantai 7 bisa mas?". "Bisa, asal jangan terjun aja," candanya. 

Grrr... kuliah masih enak mas, ngapain terjun segala... 

Kusamber kamera di atas meja kantor ITS online, berrrmm.....
 Gedung Baru ITS sebelah perpustakaan


 Wilayah Perairan, hehe... (tmpatnya anak Kapal, Siskal, Laut)



SETENGAH LINGKARAN - konsep unik.

Selasa, Desember 15, 2009

Coklat, Ibuku itu Malaikatku, Ayahku Dewaku..


Black In News, kabar gembira!! dan aku sangat gembira!!

Siang tadi, tepatnya tanggal 15 Desember 2009, aku gag sengaja membuka kurungan kelinciku. Entah kenapa, mungkin karena habis pusing-pusing mikirin Try Out UAN SMA pelajaran Biologi dan Kimia tadi di sekolah, jadi pingin main-main sama kelinciku.

Awalnya aneh ku lihat. Ketika aku datang mendekati kandangnya, sepasang kelinciku ini diam saja. Diam. Dingin. Sedingin Djarum Black Menthol di tiap isapannya. Aku buka papan yang berfungsi sebagai atap bagi kedua kelinciku ini.

Aku kaget! Kenapa banyak bulu-bulu halus di bawah kaki si kelinci jantan warna putih ini. Bulu-bulu halus, tipis dan membentuk serabut. Aku singkap pelan-pelan. Hah!! Aku kaget bercampur rasa heran. Aku melihat makhluk-makhluk mungil sedang tertidur pulas nampaknya di bawah kaki sang kelinci jantanku.

Kamis, Maret 26, 2009

KOMSUMTIF INTERNET DI TENGAH PENDIDIKAN

KOMSUMTIF INTERNET DI TENGAH PENDIDIKAN
Oleh : Muflih Fathoniawan


Dunia kini tengah menikmati perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara global. Teknologi tak henti-hentinya menawarkan produk instan. Tentu saja, itu terikat dengan kecepatan dan ketepatan dalam bekerja guna mewujudkan efisiensi dan efektivitas kerja.



Internet! telah diperkenalkan sejak pertengahan dasawarsa 90-an sebagai media penyebaran informasi global yang memberi kemudahan-kemudahan dalam pengelolaan informasi dan media komunikasi. Tanpa membuang-buang waktu untuk berjalan ke kios majalah, seperti halnya ketika akan membeli sebuah koran, kita sudah bisa memperoleh wawasan yang baru dan luas.
Perkembangan internet tidak terhenti sampai disini. Pada akhir tahun 2002, munculah weblog atau yang biasa disebut blog dalam internet, sehingga kita tidak hanya bisa membaca apa yang telah ditulis pada sebuah website, tapi juga bisa menulis dan mempublikasikannya sebagai situs/website pribadi.
Kemunculan blog ini terbukti dapat menumbuhkan minat baca dan menulis. Sekarang ada lebih 10 juta blog yang bisa ditemukan di internet (sumber : http://id.wikipedia.org/). Sangat mengagumkan dan menarik untuk dibahas, mengingat blog merupakan merupakan sarana yang gratis bagi siapa saja. Sehingga setiap orang dapat menuangkan ide atau tulisannya ke dalam blog yang dibuatnya secara pribadi.
Perkembangan blog semakin meluas. Fasilitas blog saat ini juga dapat digunakan untuk menuangkan hasil-hasil pemikiran, berdiskusi atau e-learning (istilah pembelajaran secara online). Tentu, internet merupakan salah satu kontribusi yang besar bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Praktisnya, cukup dengan duduk di depan monitor komputer, segala informasi yang dibutuhkan dengan mudah didapatkan. Kita juga bisa bertukar dan menuangkan ide sejak kemunculan blog. Kita hanya tinggal memasukkan kata kunci atau istilahnya keyword ke dalam search engine (mesin pencari). Setelah itu, akan disajikan beberapa referensi mendukung keyword tersebut. Bukannya berinternet sangat mudah?
Namun, kemudahan ini ternyata tidak semuanya berujung kepada hal-hal yang sifatnya positif dan mendidik. Justru, dengan kemudahan yang ditawarkan oleh internet, semakin banyak kasus-kasus kejahatan via internet. Contoh kecilnya adalah perkembangan situs-situs pornografi, yang banyak kebanyakan menawarkan produknya berupa gambar, video. Tentu saja juga dilengkapi dengan fasilitas download.
Semakin mudah orang mengakses internet, semakin banyak orang yang mengakses situs porno. Hal ini didasari naluriah manusia yang jarang dapat menahan diri terhadap hawa nafsu, terutama kaum remaja yang kebanyakan masih duduk di bangku sekolah.
Tidak sedikit dengan berkedok mencari referensi tugas sekolah, pelajar yang biasanya masih berseragam SMA dan SMP bahkan sekolah dasar pun mencuri-curi kesempatan browsing situs porno.
Prosesnya sama dengan kita browsing menggunakan keyword. Mudah memang. Namun yang membedakan keduanya adalah niat baik dan buruk. Berinternet dengan niat yang baik tentu selain memperoleh ilmu yang bermanfaat, juga mendapatkan berkah dari ilmu yang kita peroleh. Sebaliknya jika kita mempunyai niat buruk, khususnya ketika berinternet, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari apa yang kita cari. Tentu saja laknat yang Kuasa berbicara.
Jika berinternet dan menulis di website pribadi untuk bersenang-senang dengan fantasi pribadi, kita akan merugi. Rugi dengan biaya internet yang kita keluarkan, juga rugi waktu kita yang dibuang sia-sia. Saya pikir, tidak pernah ada untungnya berinternet yang tujuannya buruk. Karena ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas merupakan gerbang kita menuju kesuksesan di masa mendatang. Bukan dari situs-situs porno.
Untuk itu, daripada kita bersusah payah dan sia-sia browsing dan turut serta mengembangkan situs porno, lebih baik perkembangan teknologi informasi melalui internet seperti keadaan saat ini dialihkan ke sektor pendidikan. Mengingat internet yang fenomenal, jika kita menerapkan sistem belajar melalui internet. Pasti, Indonesia mempunyai banyak orang-orang yang berkualitas dan mempunyai mutu SDM (sumbder daya manusia ) yang tinggi.
Perlu diketahui, sejak Maret 2002. Universitas Brawijaya memiliki program distance learning, yang merupakan sebuah proyek kerjasama antara Universitas Brawijaya dengan SOI - ASIA ( School Of Internet ) salah satu kerja proyek WIDE (Sebuah Organisasi Distance Learning Internasional ). Dimulai pada tahun 1997 dengan mendirikan campus environment pada infrastruktur internet yang memungkinkan mahasiswa belajar tanpa dibatasi oleh dimensi dan waktu. Hingga saat ini, sekitar 700 mahasiswa lebih terdaftar pada WIDE University termasuk dari Universitas Brawijaya, yang mana lebih dari setengahnya adalah orang dewasa yang berminat meneruskan pendidikan mereka menggunaan internet.
Jika langkah awal ini kita lanjutkan, maka untuk generasi selanjutnya tidak dapat dipungkiri, pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas juga akan berkiblat dengan program distance learning. Indonesia kelak mempunyai jutaan orang handal berkat kehadiran internet di tengah-tengah pelajar.
www।worldandlive.blogspot.com

Selasa, Maret 17, 2009

DEMO DI PROBOLINGGO

DEMO DI KOTA KECIL PROBOLINGGO

Aktivitas pagi hari ketiga ‘liburan’ TryOut kelas XII, Rabu 11 Maret 2009 selesai kulakukan, kecuali sarapan. Mungkin teman-temanku sekarang sedang berlibur, mungkin saja tidak tahu apa yang terjadi saat itu.
Ketika baru saja keluar dari gang kecil rumahku, terlihat di depan kantor Kejaksaan Negeri ramai dengan orang. Menarik. Ada apa sepagi ini? Aku berhenti dan mengamati seksama.
DEMO..!!
Aku berteriak kecil lalu bergegas kembali ke rumah. Bak harimau kelaparan ketemu mangsa, aku langsung berlari ke kamar mengambil kamera digitalku dan keluar lagi untuk meliput. “Ini pasti jadi berita seru..!!” pikirku.
Segera aku berjalan menuju gerbang depan kantor. Sesak!. Kulihat beberapa wartawan sibuk mengambil gambar. Tak kalah dengan mereka. Dengan kamera posisi on di tangan, aku segera membidik beberapa objek.

“ DEWAN KORUPSI …!!”
“MAKAN UANG RAKYAT…!!”“
“KEJAKSAAN GAK BECUS …!!”
“ALLAHU AKBAR…!!!”
Kalimat - kalimat itu yang bertubi-tubi diteriakkan oleh massa. Mulai dari Dewan Perwakilan Rakyat hingga Kejaksaan dipersalahkan. Bahkan Tuhan mereka pun dibawa-bawa. Mereka tak pernah menyebut dirinya, salah. Ironis.
Aku terus membidik gambar sebanyak-banyaknya. Sesekali membayangkan aku yang menjadi pendemo atau yang didemo.
Hhiii..serem ah..!!
Beberapa perwakilan pendemo masuk ke kantor Kejaksaan. Sepertinya akan ada perundingan. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang.
“Mas, masuk saja, silahkan” perintah petugas Kejaksaan.
Aku bengong. Apa dia pikir aku wartawan??.. hehe..
Tiba-tiba tanganku ditarik oleh salah satu wartawan.
“Ayo Mas, ikut ke dalam. Beliau mas Agus Salim, fotografer Radar Bromo. “Nggak Mas” jawabku sambil tersenyum. Dia berlalu.
Ngapain aku ikut masuk?. Tapi aku tetap termenung, sebenarnya untuk apa demo itu? Aku coba membuat opiniku sendiri. Meski masih pelajar SMA, belum jadi mahasiswa yang di tv-tv hobinya demo, aku coba bertanya, apakah masalah bisa selesai dengan demo.
Kemarin demo BBM, sekarang demo dewan korupsi, besok apakah orang akan sibuk dengan demo Pemilu 2009? Kita lihat saja cara pikir mereka menghadapi masalah. (ton)
www.worldandlive.blogspot.com


http://www.worldandlive.blogspot.com/

Sabtu, Maret 07, 2009

EXPEDITION ARE LIKE OBAMA



BARACK HUSSEIN OBAMA,

“FROM ZERO TO HERO”


Hari ini seharusnya kami masuk ke sekolah. Tapi, masyarakat Probolinggo sedang melaksanakan pesta demokrasinya dalam Pilwali Kota Probolinggo 2008, sehingga otak dan pikiran seluruh warga Probolinggo “diistirahatkan” demi suksesnya pemilu.

Tak ayal, kebahagian juga menghampiri anak-anak seperti kita, sebagai anak sekolahan. Namun, senyum tak lama bertahan di bibir kami, ketika aku berkata “Besok aja ya!”. Aku berinisiatif mengirim snaskah majalah Lentera yang sempat tertunda beberapa hari itu di esok hari, saat coblosan berlangsung. Toh, cuman daerah Probolinggo saja yang libur, UN (Universitas Negeri) Malang Press kan tetap buka. Setelah berunding dengan Pak Syaiful Bahri, diputuskan aku, sebagai koord. Editing, Eka selaku pemred dan Yudhistie, fotografer majalah Lentera dan tak ketinggalan, Mr. Syaiful dengan senang hati menemani perjalanan kami menuju UN Malang Press. Sebenarnya, artikel telah kami kirim sebelumnya, namun belum ditegaskan sehingga kami diminta untuk datang lagi. Besok! Dan aku sendiri tak pernah membayangkan kalau esok adalah hari yang melelahkan.

+++++ +++++ +++++

“Kriiinnnggg…. “

Teleponku berdering. Aku terbangung. Ku lirik jam di handponeku. Hah! Setengah delapan pagi. Aku sudah terlelap hampir dua jam setengah sehabis shalat Shubuh tadi. Padahal aku sudah bikin janji bakal datang jam delapan di rumah Yudhis, karena ada beberapa artikel yang musti dibenahi.

Dengan malas aku beranjak dari kasur mimpiku, tiba-tiba “Ton, Yudhis telpon!” terdengar keras suara ayahku memanggil anak keduanya. Tersadar dan setengah kaget, kusibakkan selimut merah berbulu halus itu. Ku angkat gagang telpon dan singkat ku katakan, “Yo, marine..” (ya, sebentar lagi-red).

Sekejap ku melesat mengambil handuk dan langsung menuju kamar mandi, bak anggota dewan dengan jam terbang tinggi, telat ngantor, langsung lari menuju rumahnya, Gedung DPR. Bedanya, aku mau mandi, mereka malah berdebat ngalor-ngidul, bahkan melanjutkan tidurnya.

Byuuurrr…

Guyuran air yang dingin, menyadarkan aku bahwa aku harus cepat sampai disana. Langsung saja kupercepat mandi, namun tetap tak lupa gosok gigi. Selesai, aku keringkan badanku, berlari begitu saja menuju almari pakaianku. Ku temukan hem lengan panjang favoritku plus celana hitam. Tampak serasi dengan tubuh “langsing” ku. Hehe…

Ketika aku membuka pintu ….

“Nang endi ae kowe, suwe eram!” (kemana saja kamu, lama sekali-red) gertak Yudhis yang penuh geram menungguiku. Aku masih kaget, tak percaya. Ia membuka mulutnya lagi, “ Iku (itu-red), kerjakan tugasmu!”

Oh.. aku terbius waktu hingga tak sadar aku telah tiba di rumah Yudhis. Segera aku masuk dan langsung saja duduk di depan komputer yang menyala. Ku lihat sejenak, ada beberapa file yang terbuka dalam posisi minimize. Tanganku mulai bergerak, menyentuh mouse dan menggenggam erat permukaan halus benda mungil itu. Dengan tatapan tajam mata tertuju pada monitor, ku putar-putar telunjukku di bola kecil yang biasa disebut scroll, sambil tetap memainkan ibu jari ke permukaan halus mouse ini. Setelah ku temukan, beberapa kata yang hilang, tangan kananku mulai beralih ke tuts-tuts mungil keyboard. Beberapa kali ku tekan, bergeser ke mouse, ke tuts keyboard lagi, ke mouse lagi dan begitu seterusnya. Aku tak bisa menghitungnya.

Semua beres!. Lega rasanya. Namun kelegaan ini hanya awal. Ku lirik Eka memencet angka-angka di handponenya. Tak lama kemudian dia berkata pada benda kecil dalam genggaman tangan itu “Kami siap Pak, berangkat… ya, baik Pak!”. Sembari merapikan kerudung putih yang dikenakan, ia menoleh ke arahku dan Yudhis dan berisyarat agar segera berangkat. Oh, telepon dari Pak Syaiful, pikirku.

“ Pak, kita sudah sampai di terminal… oh, baik Pak… kami akan masuk!”, kata-kata Eka terdengar sayup ketika aku sibuk membayar ongkos Angkota. Dia mengajak aku dan Yudhis masuk peron. Di sana telah menunggu Pak Syaiful. Sembari menunggu bis Patas jurusan Malang datang, kami larut dalam obrolan.

Hampir setengah jam, tapi bis tak juga kunjung datang. Aku pamit sebentar ke Pak Syaiful untuk membeli minuman. Anggukan beliau penanda ku mulai beranjak menuju kios di sudut terminal itu. Setelah membayar. Aku kembali duduk dan menawarkan minuman ke temanku. Mereka hanya menggeleng. Aku masukkan minuman di satu-satunya tas yang biasa kupakai ke sekolah.

Tak lama kemudian, datang juga bis yang kami harapkan. Kami naik. Eka memilih duduk dengan Yudhis, alasannya biar enak ngobrol. Aku sendiri, dengan penuh kepercayaan diri duduk dengan Pak Syaiful, yang telah menempuh studi hingga tingkat magister. Bangga rasanya. Kapan lagi bisa duduk dan ngobrol dengan orang semacam beliau.

Sempurna, obrolan aku dengan Pak Syaiful nampaknya begitu menyatu. Apalagi ketika berbicara masalah lika-liku politik Indonesia hingga bersinggungan dengan pembelajaran di SMASA. Ku lirik Eka dan Yudhis, mereka nampak heboh.

Nah, ketika penjual koran masuk, aku merogoh ribuan di sakuku. Sialnya, sulit kudapat. Pak Syaiful nampaknya mengerti kesulitanku dan menyodorkan uang seribu kepadaku. “Terima kasih”, ucapku tulus.

“SURYA”

Ah… koran ini. Ku buka halaman opini. Kolom warteg hari itu tidak terisi. Aku memang suka menulis dan mengisi kolom ini. Beberapa kali termuat, meski tanpa fee. Tapi mungkin karena berkurangnya minat tulis masyarakat Indonesia, kolom-kolom seperti ini jarang lagi dipenuhi opini publik yang menarik dan kadang kali menggelitik.



+++ ++++ +++

Aku terbangun. Kondektur memecah tidurku dan mengatakan bahwa kami sudah tiba di Terminal Arjosari, Malang. Kami turun dan segera mencari warung. Maklum, dua jarum jam di pergelangan tanganku telah menunjukkan angka 12.15.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju UN Malang dengan flashdisk kumpulan artikel di tangan. Tersenyum manis menelusuri kota Malang.

Kami bertiga disambut oleh Mas Yusuf, layouter di percetakan tersebut. Dan langsung saja kami bertiga dibawa ke ruang kerjanya. Sedangkan Pak Syaiful asyik ngobrol dengan salah satu karyawan disana.

Diantara kami bertiga, aku adalah yang paling paham tentang seluk beluk artikel dan tata letak yang pas. Sehingga aku yang kebagian menjelaskan satu-persatu mengenai isi majalah kita kepada mas Yusuf. Setelah panjang lebar, kami pamit pulang karena jam dekstop komputer disana sudah menunjukkan angka 15.48.

Kami bertiga tidak begitu saja melewatkan momen berharga di percetakan. Setelah melakukan shalat Jama’ Dhuhur dan Ashr, kami berkeliling di ruang cetak. Di sana juga terdapat kalender, majalah-majalah bahkan buku-buku. Tak lupa, Yudhis kebagian dokumentasi. Hehe…

Lelah… kami pulang…

Eits, namun ekpedisi Lentera tak berhenti sampai disana. Aku dan Yudhis harus kembali ke percetakan untuk tahapan finishing. Setelah menerima hasil layout dari UN Press, kami masih harus membenahi tampilan-tampilan yang dirasa kurang. Pembetulan kami kirim via email. Butuh waktu satu bulan dari meja redaksi hingga ke siap cetak. Jadi, Sobat Tera sabar ya… Butuh waktu, tenaga dan pikiran yang kami curahkan kepada Majalah Lentera, untuk pembaca setia, Sobat Tera. (0609) So, send us your masterpiece at redaksi.lentera@gmail.com


www.worldandlive.blogspot.com

jagoBlog.com