Minggu, April 22, 2012

arti nilai dan proses

seperti apa pentingnya proses?
dan seperti apa arti penting nilai akhir?

ketika ingin nilai tanpa melihat proses, yang terjadi adalah kecurangan.
ketika proses maksimal hasilnya NOL berujung kekecewaan.

menuntut llmu itu ingin nilai apa prosesnya?

bagaimana dengan kekhilafan? apa khilaf tidak bisa diperbaiki?

Anda pilih mana?

#maaf kawan2 blogger, maaf bu

Minggu, Maret 04, 2012

Nyalakan Lilin sebelum Mengutuk Kegelapan

Anak-anak adalah aset bangsa. Istilahnya kalau lagi mikirin akuntansi, anak-anak adalah aktiva negara ini. Maka, mereka berhak mendapatkan prioritas pendidikan, apapun itu bentuknya dan bagaimanapun caranya. 

Selama saya disini, saya mengamati pola tingkah laku anak-anak, terutama saat mereka bermain. Sebagian dari mereka lucu, namun tidak terarah. Sebagian besar orang tuanya tidak terlalu peduli dengan pola bermain anak-anak. "Yah, namanya juga anak kecil," ujung-ujungnya itu yang mereka ucapkan.

Pernah, saya berbincang-bincang dengan istri Pak Yahya, Bu Yahya namanya (hehe :D gag tau nama aslinya). Dalam obrolan singkat itu, saya sempat menanyakan kondisi pendidikan dan minat anak-anak belajar. Beliau berujar, anak-anak disini sedikit sekali yang memang berniat sekolah dengan serius.

"Banyak cara mendapatkan nilai bagus mas disini, terutama kalau sudah punya doi (uang)," ungkapnya prihatin. Itu berlaku untuk setingkat perguruan tinggi, sekolah menengah bahkan sekolah dasar pun juga ada praktik lobi nilai dengan uang seperti itu. Tenaga pengajar pun kurang memiliki rasa dedikasi mencerdaskan murid-muridnya. Etos kerja dinilai kurang, meskipun tidak bisa dipukul rata semua demikian. 

"Oh...." saya manggut-manggut, terenyuh, prihatin. Setengah menghela nafas panjang, saya bersyukur bisa lahir di Jawa, dengan kondisi kompetisi positif dalam berprestasi memang kental terasa. Sesaat, saya ingin menularkan semangat ke adik-adik kecil di lingkungan perumahan. Seperti Mas Huda dan kawan-kawan lain yang mencurahkan tenaga, pikiran serta materinya untuk adik-adik binaan di Taman Baca Kawan Kami di kompleks lokalisasi Dolly.

Mas Huda dan Dolly

Bisa dibilang, dia hafal seluk beluk lokalisasi Dolly. Ditanya tarif, bisa dia jelaskan. Saat teman-teman lain tersesat di daerah sana, dia bisa jadi petunjuk jalan. 

Dia juga bisa bicara dengan gamblang segala bentuk profesi di lokalisasi yang bertempat di daerah Putat Jaya Surabaya ini. Tapi dia bukan pelanggan, bukan "pekerja", rumahnya juga bukan di daerah "kotor" itu. Nur Huda, begitu nama lengkapnya, adalah aktivis sosial yang membina moral dan spiritual serta membimbing belajar anak-anak tak berdosa, yang terpaksa tumbuh di daerah lokalisasi. Daerah yang seharusnya tidak dijamahnya.  

Mas Huda, begitu saya menyapanya, dengan teman-teman lain Taman Baca Kawan Kami tiap hari Minggu mengunjungi adik-adik itu. Kisahnya di Taman Baca ini juga sudah dibukukan dan bukunya bisa didapat di Toko Buku Gramedia dengan judul "Permata dalam Lumpur" terbitan Quanta publishing.


Mas Huda juga redaktur saya di ITS Online. Kami cukup akrab, beberapa kali makan bareng, jalan berdua, menyusuri indahnya jalanan kota Surabaya. Nah loh? Untungnya, kami normal. Kalian tenang saja. Kita selalu menutup aurat dan menjaga pandangan kalau bertemu. (sayangnya, kita sama-sama dipanggil orang "mas". jadi gag bakal ada kejadian yang tidak "diinginkan, hehe)

Mas Huda dkk sudah merintis Taman Baca itu 3 tahun lebih. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk bergabung mengajar di Taman Baca (biasa kami sebut Kampus D :) ). Meski saya disana hanya kurang dari dua bulan, karena saya harus pindah domisili sementara dari Surabaya.

Pengalaman saya di Taman Baca Kawan Kami ini, membuahkan banyak kesan yang saya bisa petik.  Salah satunya, rasa syukur saya atas nikmat yang selama ini tidak saya sadari. 

Adik-adik di Dolly, sejak kecil sudah akrab dengan pekerja tuna susila, main dengan botol-botol bekas minuman keras, hidup di lingkungan penuh lelaki hidung belang menumpahkan cairan maninya. Meski ada yang memiliki orang tua yang seperti pada umumnya, namun banyak diantaranya hidup dengan orang tua sebagai pekerja tuna susila juga, pemabuk, mucikari, bahkan diantaranya punya ibu, tapi entah siapa ayahnya, 

Mereka sama dengan anak-anak daerah lain. Bersih, suci dan tidak tahu kondisi seperti apa di sekitar mereka. Mereka terpaksa tumbuh berkembang dekat sekali dengan prostitusi. 

Adik-adik itu sama dengan kita. Sama dengan saya, yang pernah kecil seperti mereka.
Kita (harusnya) punya hak yang sama... Tapi kenapa tidak?


Akhirnya....
Setelah lama di ujung utara pulau berbentuk huruf K ini, akhirnya pintu mimpi saya mulai terbuka. Kembali mengajar [lagi] setelah lama saya tinggalkan Probolinggo, kota kelahiran dan Surabaya, khususnya Kampus D[olly] di Taman Baca. Saya bersama kawan-kawan saya berkesempatan ngajar anak-anak seumur 3-12 tahun di Taman Belajar di Masjid perumahan tempat saya tinggal saat ini. 

Sebenarnya, Taman Belajar ini sudah ada sebelum saya menginjakkan kaki di kota ini. Namanya Tazkir Anak-anak. Kegiatan ini dulu dibuat atas dasar banyaknya anak-anak muslim yang ikut ke dalam sekolah minggu besutan kaum Nasrani. Untuk menyelamatkan aqidah anak-anak muslim, maka dibentuklah badan tazkir anak-anak dibawah asuhan seorang ustadzah *aduh maaf lupa namanya hehe... Kegiatannya mempelajari agama dari dini, thaharah, nyanyian Islami, tilawah Qur'an beserta terjemahnya, serta cerita-cerita Islami pembangkit keceriaan yang dibawakan pengasuh. Namun, kesibukan sang ustadzah di luar membuat agenda kegiatan ini berkurang, meski demikian anak-anak pun semangat datang tiap minggu pagi di Masjid.

Alhamdulillah, gayung bersambut ketika program kerja BEM STAN  2011-2012 terbentuk, saya diajak beberapa pengurus bidang Pengabdian Masyarakat untuk mengisi materi. "Mantap," ujar saya dalam hati. Saya yang saat itu sedang kerja bakti di masjid, diminta untuk segera membersihkan diri dan mengikuti agenda tazkir. 

Pertemuan pertama, tidak banyak yang kami lakukan. Kami? Ya saat itu kami datang bertiga, bersama Alex (kordiv pengmas) dan Hamid (Kadept Humas). Kami dan adik-adik berjilbab dan berpeci ini berkenalan dengan cara unik dan mengejutkan. Bernyanyi, bertepuk tangan, menggeleng kepala, lalu sebut nama satu persatu. 

Ah, biar aja... kita kan harus tahu anak-anak itu bagaimana, baru kita bisa dengan nyaman bisa mengajar. Bagian dari proses, hiburku.

Sampai pada inti acara, kami diminta ustadzah untuk bercerita. Jleb! Alex dan Hamid langsung memandang tajam ke arahku. Uh, gag papa sih aku yang cerita, tapi mau cerita apa? Bagi saya, agenda ini ndadak, eh malah disuruh cerita. Waktu itu, yang terpikir masak di depan adik-adik kita menolak dan bilang "Gag bisa, ustadzah".  Bukan malu, tapi bahaya juga jika budaya "ndak bisa, ndak mau" ditirukan adik-adik. Saya akhirnya mengangguk mantap, mengiyakan.

Cerita dari saya, mengenai cita-cita. Saya tidak mau ambil pusing mau ngarang cerita seperti apa. Ambil saja inspirasi cerita dari adik-adik. Kutanya,"Cita-cita kalian apa?". "Dokter kak," ujar Yoyok yang duduk di sebelah kananku. "Oke, Ada lagi?,". "Dokter kak," ungkap Nanda yang saat itu berkerudung biru. Setelah itu, bersahut-sahutan ingin jadi dokter. Yak, saudara-saudara. berarti saya bercerita tentang kedokteran dikaitkan Islam. Alhasil, kemudahan didapat. Saya  menerangkan fungsi air wudhu dari segi medis. Mereka tampak larut cerita saya. Bahkan usai cerita, Salah seorang adik di baris perempuan berkata "Kalau gitu, saya gag boleh lupa shalat biar sehat," ujarnya polos. Alhamdulillah..

besok, saya mau cerita apa lagi?




yuk mari kawan, selagi ada kesempatan yuk mengajar...


*ditulis sembari muhasabbah 
maaf karena sudah lama gag nulis, jadi kaku nulis... 

Jumat, Maret 02, 2012

Ujian, Tradisi Penentu Intelektualitas


Kuliah merupakan pilihan utama siswa usai menamatkan belajar di bangku SMA. Ada banyak pilhan untuk kuliah. Ingin studi di universitas swasta, universitas negeri maupun sekolah tinggi kedianasan. Penawarannya, jika memilih kuliah di swasta, konsekuensi yang Anda pikul tentu soal biaya dan akreditasi. Jika pilihan jatuh di perguruan tinggi negeri, beban kuliah sebagian besar mendapat subsidi dari negara. Namun jika pilihan Anda masuk sekolah tinggi kedinasan, Anda diberi fasilitas kuliah gratis, lulus langsung bekerja. Apakah masih ada yang demikian? STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) adalah salah satu pilihannya.
Menempuh perkuliahan di sekolah dinas dibawah naungan kementrian keuangan ini memang berbeda dengan system perkuliahan di universitas/pendidikan tinggi lain./ jika mahasiswa lain memiliki kebebasan memilih jumlah kredit semester, terkadang dosen maupun jam kuliah bisa memilih sesuka hati, tidak dengan mahasiswa STAN. Semua di STAN sudah diatur oleh system. Mahasiswa-mahasiswa STAN tinggal menerima dan menjalani.
Salah satu system yang unik di pendidikan STAN, juga tidak berbeda di tempat lain adalah tolok ukur ketercapaian materi kuliah dan pembobotan jenis ujian. Rata-rata, system pendidikan di Indonesia memiliki tolok ukur pencapaian prestasi di penghujung masa pendidikannya. UNas, UTS maupun UAS adalah penentu akhir selama pendidikan. STAN juga demikian, 80 % dari 100% nilai per semester merupakan hasil UTS dan UAS, masing-masing 40%. Alhasil, 2 waktu itu menjadi ‘even’ besar bagi mahasiswa STAN untuk memperjuangkan nilai yang terbaik. Acapkali, juga menjadi momok yang terkadang memaksa mereka untuk berkali-kali menyeduh kopi untuk menemani begadang belajar ujian.
Dua even itu pula pun menjadi keramat. Banyak pantangan-pantangan yang harus dihindari agara UTS dan UAS lancer. Beberapa diantaranya makan sambal di pagi hari, tidur terlalu malam, begadang dan hal lain yang bisa menghambat konsentrasi saat mengerjakan ujian keesokan harinya. Andai saja halangan tersebut terjadi, maka 80% nilai mahasiswa akan terancam. Ritual lain biasanya meningkatkan rutinitas ibadah-ibadah sebagai siraman ruhani mereka.
Sebesar 20% yang lain, merupakan penilaian aktivitas kelas dan tugas-tugas sehari-hari. Ironi memang, mahasiswa masuk tiap hari kuliah hingga 16 kali pertemuan, hanya menempati bobot 20 % nilai. Sedangkan dua hari ujian (UTS dan UAS) akan mempertaruhkan perjuangan kita.
Fakta lain, jika kita mengamati soal-soal ujian, ada beberapa jenis soal. Pertama, pilihan ganda, ada pula tipe soal menilai suatu pernyataan benar atau salah, serta tipe soal esai. Prosentase penilaiannya memang lebih besar essay, namun itupun tidak lebih dari angka 40%. Namun sebenarnya, dengan essai pemahaman kita dituntut baik.
Beda halnya dengan dua tipe jenis sebelumnya, pilihan ganda maupun pilihan benar salah. Bagi yang paham, hal itu tidak jadi masalah. Meskipun terkadang apabila ketika konsentrasi siswa tersebut terganggu, ada kemungkinan menyilang/memilih jawaban yang tidak tepat. Namun bagi yang tidak memahami, soal tipe ini bagaikan tipe soal probabilitas. Kalau beruntung, dia benar, kalau salah mujur tidak didapatnya. Rangkaian soal-soal ini sangat berpengaruh terhadap keluarnya nilai seseorang mahasiswa di akhir semester.
Personalan demikian bukan hanya terjadi di kalangan mahasiswa saja. Sejak usia dini, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) pula ada Ujian Nasional. Ujian ini juga penentu akhir lulus tidaknya seorang siswa, meskipun dirinya meraih prestasi di bangku kuliah, namun karena factor ‘X’, dia bisa saja gagal menjawab baik. Meskipun saat ini system ini sudah diperbaiki, namun masih memiliki proporsi yang besar dalam penentu intelektual seseorang.
Menyikapi hal ini, bukan saatnya kita menyalahkan system yang ada. Hanya saja, kita perlu persiapan yang jauh lebih matang untuk menghadapi UTS dan UAS maupun Ujian Nasional bagi yang masih di bangku sekolah. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus mempersiapkan segala ujian jauh-jauh hari. Kemungkinan factor ‘X’ meskipun ada, namun peluangnya kecil. Kita berharap, semua akan berjalan dengan lancar hingga mendapatkan nilai sebaik-baiknya.

ditulis karena sedang terbakar hasil UTS ^^ semoga bisa istiqomah meningkat 

Senin, November 28, 2011

Islam (disini)

Kehidupan penuh perbedaan. Secara lahir dan batin, Wanita berbeda dengan pria. Tua dan muda juga berbeda. Bahkan, di negara Indonesia ada lima agama sah diakui yang berbeda. Namanya juga Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Pokoknya tetap satu Indonesia.

Saya akui, di Manado sangat jauh berbeda dengan di tanah Jawa. Saya bilang demikian, karena saya pun pernah tinggal setahun di daerah Surabaya, selain di tanah kelahiran Probolinggo. Rentang waktu setahun saya rasakan, tidak ada perbedaan yang mencolok antara Surabaya dengan Probolinggo. Perbedaan Manado-Jawa ini lebih besar karena faktor keadaan agama. Kalau di Jawa, tiap sekitar 100 meter hampir adamasjid atau musholla, sesekali saja kita temui gereja. Namun berbalik 180 derajat di Manado, gereja hampir berjejer di pinggir-pinggir jalan utama menuju kota. Di wilayah perumnas - tempat saya tinggal - ada dua, sedangkan masjid hanya ada satu se- kelurahan Paniki Dua.

Maaf sebelumnya, kalau tulisan ini mengandung SARA. Saya berusaha untuk tidak menyinggung salah satu agama. Ini keadaan dan pengamatan di Manado dan sekitarnya, dan efeknya terhadap saya dan teman-teman yang bernasib sama dari Jawa. Semoga ada manfaatnya. Setidaknya memberi gambaran pluralisme disini. Atau ikutan trenyuh (prihatin), hehe...

Seperti yang saya gambarkan di paragraf dua, di Manado keberadaan gereja jauh lebih banyak daripada masjid. Bisa ditarik kesimpulan memang umat Nasrani mayoritas disini. Nah kami, sudah perantau, juga termasuk yang minoritas. 

Berdekatan : Gereja di pertigaan, kalau mau ke masjid dari kontrakan lewat sini (foto masjid menyusul)

Hidup di tanah turunan Minahasa ini, semua memang serba minoritas. Kalau Anda seorang muslim, orang Jawa dan hidup di Jawa pula, Anda akan merasakan lingkungan layaknya istana sendiri. Semua seakan bergerak berirama, misalkan ritual adat ketika tahun baru Hijriah, atau 1 Syuro. Masjid, musholla dan surau-surau kompak melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an, biasanya dimulai bada (usai) Ashar hingga menjelang Isya. Nah, saya akan menceritakan bagaimana 'perayaan' tahun baru Hijriah di masjid di lingkungan mayoritas Nasrani ini.

Masjid ini satu-satunya dan terbesar di kelurahan Paniki Dua (bisa jadi se-kecamatan Mapanget). Selain masjid, jarang ada musholla atau surau. Setahu saya, yang lain itu musholla di BDK. Masjid dengan corak warna dominan hijau ini, memiliki pelataran yang cukup luas dikelilingi pagar tembok setinggi badan. Akses masuknya, melalui dua pintu, di sisi timur dan utara. Tidak jauh beda dengan masjid lainnya, masjid ini juga memiliki menara pengeras suara di sisi timur, dekat tempat wudhu terbuka. Entah, ini tempat wudhu untuk pria atau wanita, karena kadang saya, teman-teman dan bapak-bapak mengambil air untuk bersuci disini, kadang juga terlihat ibu-ibu berwudhu. Kubah masjid berwarna hijau, dilingkari lampu kelap-kelip. Jika dilihat dari kontrakan saya, lumayan kelap-kelip hijau-merah ini mencolok di tengah mendungnya langit Manado. Apalagi jalan-jalan di perumnas belum ada lampu penerangan jalan.

Cukup banyak umat muslim di sekitar Paniki Dua yang menunaikan shalat berjamaah di masjid ini. Apalagi kalau shalat Maghrib dan Isya', hampir tiga shaf selalu dipenuhi. Masjid ini juga menjadi salah satu tempat berkumpulnya umat muslim dengan efektif, termasuk tempat berkumpulnya kawan-kawan STAN dari Jawa maupun Makassar.

Masjid ini bernama Al Muhajirin. Muhajir berarti kaum yang hijrah, dari satu tempat ke tempat lain untung tinggal menetap. Istilah nasionalisnya imigrasi. Kalau dalam agama Islam, Muhajirin juga berarti pindah tempat tinggal untuk berjuang di jalan Allah.  "Wah, ini gue banget!" pekik saya dalam hati melihat nama ini, Insya Allah!. Pindah jauh dari Jawa, untuk belajar di sini. Fi sabilillah, dan syahid adalah asuransi kami. 

Mungkin itu juga dipikiran orang-orang yang mendirikan masjid ini. Konon masjid ini dibangun oleh warga pendatang dari Jawa, yang rata-rata muslim. Mereka tinggal di sekitaran masjid. Sebelumnya saya belum tahu, kalau banyak orang Jawa yang sering berjamaah di masjid ini. Cuman beberapa kali menaruh curiga. Kok rata-rata kulitnya sawo matang, dan sawo kematangan - seperti saya - yang beberapa kali terlihat keluar-masuk ruang sekretariat masjid. Beberapa kali curi dengar mereka bilang "Yo opo iki, lho ngene lho," dengan logat yang jelas-jelas medok Njowo. Tapi kala itu daerah ini sangat asing, gag mau ambil pusing apa mereka bener dari Jawa, kebetulan asal ngucap saja, atau orang Manado yang memang nawaitu les privat ke orang Jawa. Ada-ada saja. haha.. :D

Kalau dari kontrakan menuju masjid, kami harus melewati sebuah gereja besar di pertigaan jalan. Gereja ini juga hampir sama besar dengan masjid. Banyak aktivitas yang dilakukan gereja ini, siang hingga larut malam. Kegiatannya bermacam-macam, tidak hanya sembahyang saja, tetapi selintas saya lihat ada semacam pertunjukan atau pesta. Segala aktivitas di gereja ini hampir bisa didengar oleh siapa saja di lingkungan ini. Pasalnya, selain menggunakan corong pengeras suara di gereja, ternyata juga ada pengeras suara di tiap-tiap gang yang asal suaranya dari gereja. Kadang pagi hari hingga menjelang siang, diperdengarkan lagu-lagu Nasrani. Mau tidak mau, kami dapat mengetahui aktivitas mereka dari corong pengeras suara ini. Kalau masjid kubahnya yang dilingkari lampu kelap-kelip, nah gereja ini juga punya lampu kelap-kelip menempel di tembok depan, cukup besar dan membentuk salib.

Pernah saya dengar dari seorang muslim, security BDK. Katanya disini kalau malam takbiran Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha, bukan hanya umat Islam yang bertakbir, tetapi umat non muslim juga turut merayakan. Begitu pula saat Natal, umat muslim kadang bisa jadi Sinterklasnya. Allahu Alam. Saya belum bisa bicara banyak, belum bisa lihat sendiri. Nanti akhir bulan Desember ini saja saya tulis. Yang jelas, Islam tetap mengajarkan kita boleh bersaudara, bertetangga dan hidup bermasyarakat dengan non-muslim. Tapi tetap, soal ibadah tidak bisa diganggu gugat. Agamamu itu agamamu,  agamaku-agamaku. (Coba nanti saya buktikan :D )

Nah, ini ceritanya, tadi intermezzo sedikit :D 
Malam itu (27/11), adalah tahun baru Islam 1433 hijriah. Sudah sejak siang hari hingga usai shalat Ashar terdengar beberapa kali pengumuman dari pengeras suara masjid, bahwa nanti bada maghrib diselenggarakan baca doa bersama awal tahun yang kemudian dilanjutkan dengan tasyakuran. Siang itu usai mendengar pengumuman masjid itu dan melihat beberapa status fb kawan di ITS, saya baru sadar, 1 Muharram jatuh pada nanti malam. Sepakat, kami sekontrakan ikut baca doa awal tahun berjamaah. 

Suasana malam itu usai hujan deras, jalanan yang diaspal basah, yang lubang tergenang air. Keadaan ini membuat kita berjalan menuju masjid dengan mencincing sarung meski harus berpacu dengan adzan Maghrib disusul Iqamah. Jamaah yang datang malam itu memang sedikit lebih banyak, terutama shaf para ibu. Kami sekontrakan juga tidak genap datang semua. Pasalnya, Si Doni dan David masih mandi, sedangkan si Izhar sepertinya lagi sibuk sendiri di kamarnya. 

Awalnya tidak ada yang beda, biasa saja. Usai shalat Maghrib, jamaah dilanjutkan membaca do'a awal tahun tiga kali, dan beberapa amalan dzikir. Saya sedari tadi sudah tidak fokus membaca dzikir. Pikiran saya melayang jauh ke rumah. Ada - sedikit rasa - kangen, shalat jamaah di musholla dekat rumah. Tiba-tiba, pikiran melayang-layang gag karuan. Mata saya tiba-tiba buram, berkaca-kaca. "Gusti, sampun seminggu kulo dateng mriki, Alhamdulillah wonten masjid sing tiyang-tiyang'e kados keluarga sedaya (Allah, sudah seminggu saya disini, Alhamdulillah ada orang-orang masjid yang semuanya seperti keluarga)," ujar saya lirih hanyut dalam doa. 

Acara selanjutnya - menurut saya sangat spesial - yaitu tasyakuran dan ada sedikit ceramah. Bukan makanan yang membuat menarik - meskipun memakai asas kemahasiswaan, ada benarnya - tetapi apa yang disampaikan oleh penceramah. Pak Yahya, namanya. Beliau seperti orang Jawa, dilihat dari tingkah laku, raut wajah dan cara menuturkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Pak Yahya termasuk orang yang terkenal di daerah ini. Mulai dari pos satpam BDK hingga ke pasar, banyak yang bicarakan beliau. Beliau sangat memperhatikan mahasiswa baru STAN ini. Pak Yahya mengaku bangga dan senang, banyak dari kami yang datang shalat berjamaah. Hampir dua shaf seringkali dipadati musafir ilmu perpajakan ini. 

Saat awal tahun baru Hijriah kemarin, Pak Yahya menghadiahi kami doa untuk kelancaran kuliah selama setahun kedepan. Beliau juga senang hati jika mereka mau menggunakan masjid sebagai tempat pos kami, rumah kami setelah kos dan BDK, baik untuk shalat, mengaji, belajar, atau bahkan sekedar istirahat. "Itu lebih baik, Insya Allah warga sini juga akan mengenal kalian, karena masyarakat disini adalah keluarga kalian selama satu tahun ini,". Alhamdulillah, hati saya dingin, tapi mata saya panas. Beberapa kali tangan saya mengucek kedua mata ini, berusaha menyembunyikan air mata yang terlanjur tumpah.

Esoknya (28/11), usai shalat Isya, ada pengalaman baru. Pertama kalinya saya dan jamaah shalat Isya masjid Al Muhajirin menjadi saksi atas masuknya Alex atau Lexi dalam agama Islam. Alex yang berkulit hitam manis ini - begitu Pak Yahya menyebutnya - dulunya adalah penganut agama Katolik. Sudah sejak dua minggu lalu, Alex bertekad bulat dan serius masuk Islam. "Alex, dulu kamu adalah saudara kami, sekarang setelah masuk Islam, kamu menjadi keluarga besar kami, dan masjid ini akan menjadi rumah kedua Alex setelah tempat tinggal. Insya Allah, Allah akan meridhai segala amal baikmu, Lex," pesan Pak Yahya kepada Alex dihadapan jamaah. 

Usai Pak Yahya berkata demikian, mata saya mulai berkaca-kaca. Sembari menahan air mata yang ingin meluap tumpah, saya membatin. Alhamdulillah, saya dan Alex diberi hidayah agama Islam yang sangat indah ini. Saya dapat membayangkan, orang seperti Alex ini adalah transisi akidah yang sangat besar. Secara rasionalis, dia sebenarnya berada di posisi aman, mayoritas. Namun, secara akhlak dan akidah, dia memilih jalan yang mulia sekaligus jalan yang berat - menurut saya - yakni menjadi minoritas. Tapi Pak Yahya sudah berpesan, apabila kita semua ingin mempertebal iman dan taqwa, masjid adalah tempatnya. Ah, bagi saya yang belum pernah mondok ini, masjid ini bisa dijadikan pondok pesantren saya. Semoga Alex, saya dan pemeluk agama Islam selalu dikuatkan iman dan ditingkatkan taqwanya. Amin.

Pak Yahya kemudiah melanjutkan wejangannya kepada kami, mahasiswa STAN yang rata-rata sudah tidak berambut alias gundul satu centi. Seakan seirama dengan pikiran bahwa masjid ini pesantren saya, tiba-tiba Pak Yahya mengusulkan agar kami ini dibina intensif dalam bidang agama. Beliau usul, agar kita ini dididik ilmu agama Islam untuk syiar agama dalam masyarakat. "Kalian nantinya akan disebar di seluruh Indonesia (saya lekas-lekas berdoa, semoga di Jawa saja, Amin :D ), kalian yang akan membawa bendera Islam di pelosok negeri ini. Maka, saya dan pengurus masjid punya inisiatif untuk mengajak adik-adik STAN belajar bersama tentang agama. Utamanya, ya belajar menjadi imam shalat, imam tahlil, imam shalat jenazah, merawat jenazah, serta belajar khutbah Jum'at," jelas Pak Yahya disertai senyumnya yang teduh. 

Jenius bapak ini. Kita memang kader Depkeu. Tetapi kalau hanya dibekali ilmu administrasi perpajakan, lantas siapa yang menjadi imam di daerah dinas nanti? Siapa yang menjadi panutan agama di lingkungan dinas nanti? Dan siapa yang berani berkata "Haram!" pada uang pelicin, kalau tidak pelaksana pajak nanti. Ya, kami nanti yang bertanggung jawab semuanya. Alhamdulillah, satu tahun dari sini, selain menuntaskan pendidikan, juga bisa jadi ustad muda. :D hehe.. Allahumma Amin.

Sungguh, sebenarnya tidak mudah hidup di lingkungan seperti ini. Keluar rumah kontrakan harus ekstra hati-hati. Kalau di Jawa, yang haram dan najis itu jarang ditemui, disini yang haram sangat mudah. Keluar rumah rasanya amat kotor. Maaf, kotoran anjing bisa dimana, belum anjingnya dan air liurnya yang menetes kemana-mana, sehingga saya selalu mencincing celana atau sarung. Itu yang najis, belum yang haram untuk hati. Juga apes, haram untuk mata, karena penjahit disini selalu membuat pakaian yang tidak tuntas. Celana gag sampai mata kaki, bahkan gag sampai lutut, entah berapa centi diatasnya. Baju u can see (yukensi) yang artinya "kamu dapat liat", ah membuat risih. Hanya bisa berjalan ke kampus membatin, nggak terlalu banyak lihat depan, nunduk lebih aman. 

Kata Pak Yahya, ilmu itu suci, ilmu itu cahaya. Allah tidak akan memberikan ilmu-Nya apabila jiwa dan raga kita kotor. Naudzubillah. Jauh-jauh ke Manado, nggak dapat ilmu apa-apa, bahkan Allah tidak mengakui kita sebagai pejuang di jalan-Nya apabila kita melenceng. "Niatkan, lurus pandangan, tidak boleh noleh kanan-noleh kiri, hanya untuk ilmu Allah," begitu ucap beliau.


- Bisa saja lulus, tapi jadi Gayus. 
Ih, amit-amit... Naudzubillah... Semoga kita dihindarkan dosa besar menyuap dan disuap..

- Semoga Pak Yahya dan rekan-rekan takmir masjid diterima amal ibadahnya, serta juga berperan membangun suasana di Dirjen Perpajakan Kementerian Keuangan sejuk, tenang dan bersih suci. Semua itu untuk umat kok..

- Minoritas atau mayoritas itu sama saja. Sama-sama harus mempertebalkan keimanan dan meningkatkan ketaqwaan. Fardhu ain hukumnya.

bersambung dengan seri yang lain...

jagoBlog.com